Selama ini yang sering kita tahu antara perusahaan raksasa dan perusahaan kecil saling bersebrangan pendapat. Tidak hanya itu, di Indonesia sudah menjadi hal yang lumrah terjadi jika ada perusahaan besar bahkan dari negara asing yang mengeksploitasi sumberdaya alam Indonesia menjadi ajang sengketa yang bisa dan mudah di politisir. Entah itu masalah pencemaran lingkungan, keruskan sumber daya alam, ketidakrataan bagi hasil pendapatan bahkan kecemburuan sosial yang terjadi. Saya akan sedikit mengulas kasus yang saya hadapi dengan Chevron kaitannya dengan masyarkat disekitar daerah eksplorasi geothermal yang dilakukan oleh PT Chevron Pacific Indonesia.
Sekedar studi komparasi kasus dalam sebuah departemen SCM (Supply Chain Management) yang menghadapi beberapa kendala. Sebenarnya masalahnya boleh dibilang ringan akan tetapi berdampak luas hanya karena masalah rekanan bisnis chevron saja.
Saya ada sebuah ilustrasi yang menarik dan bisa dijadikan sebagai gambaran awal mengapa masalah itu menjadi komplek dan muncullah tatacara bagaimana menanganinya. Chevron memiliki divisi SCM, apa itu SCM? mari kita simak ilustrasi di bawah ini…..
Jika Anda menginginkan sebotol minuman bersoda yang dingin, maka Anda harus mempekerjakan seorang Sarjana Teknik Pangan untuk membuat resep minuman bersoda, seorang Sarjana Teknik Mesin untuk membuat mesin pengisi minuman kedalam botol, seorang Sarjana Teknik Elektro untuk membuat mesin dikendalikan secara otomatis, seorang Sarjana Teknik Informatika untuk membuat program komputer yang mengendalikan mesin, seorang Sarjana Teknik Sipil untuk membuat gedung pabrik dan gudang, seorang sarjana Teknik Transportasi untuk membuat jalur pengiriman botol minuman sampai ke tangan Anda. Semua Sarjana Teknik ini membangun sistem-sistem di atas menjadi efisien dan efektif.
Baik sekarang bagaimana jika pertanyaannya di rubah menjadi; Jika Anda menginginkan membutuhkan listrik untuk rumah anda, maka…… coba anda bayangkan berapa jenis kebutuhan yang perlukan selain sumber daya manusianya??? tentu banyak sekali. Chevron memanfaatkan geothermal untuk memberikan sejumlah energi listrik untuk masyarakat kita. Asumsinya disini adalah saya bukan dari pihak chevron akan tetapi saya membahas dari dua sisi dalam satu kajian. Balik kembali ke masalahnya, sudah pasti saat Chevron berusaha memenuhi kebutuhan listrik itu, maka chevron akan mulai mempersiapkan barang yang disediakan oleh para supplier. Barang dalam bentuk material baku hingga pendukung dalam sebuah hubungan end to end process. Akibatnya kebutuhan rumah tangga Chevron mulai meningkat, bahkan dalam skala besar, baik material untuk perawatan, kebutuhan proses produksi, hingga kebutuhan sehari dari tenaga chevron sendiri. Kebutuhan itu semua terwujud dalam bentuk purchasing order (PO) pembelian barang, dan itu dikelola oleh divisi SCM.
Lalu apa masalahnya???
Ini yang menjadi pertanyaan bagaimana Chevron harus memenuhi kebutuhan itu??? jawabannya lelang kerjaan. Akan tetapi proses ini menghadapi rintangan, diantaranya peraturan pemerintah yang mengharuskan memasukkan kandungan lokal ditahun 2025 sebesar 95%. Artinya memiliki kesempatan untuk perusahaan lokal disekitar daerah lokasi eksplorasi untuk berbisnis dengan Chevron sebagai supplier barang dan jasa. Nah disinilah terjadi kendala bukan rintangan. Saat chevron membutuhkan barang dan jasa, maka chevron mewajibkan para vendor-nya untuk memenuhi ketentuan yang ada. Baik dari persyaratan teknis hingga syarat health, safety, and environment (HSE) kalau bahasa Indonesia-nya K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan). Pertanyaannya apakah orang Indonesia sudah terbiasa dengan budaya K3L?
Kajian ini bukan masalah memenuhi persyaratan atau tidak, tapi saya melihat sudah saatnya bangsa ini terutama dikalangan menengah ke bawah mulai tertib untuk dapat mengembangkan potensi sesuai dengan standar yang berlaku umum. Posting ini bukan sebuah curahan hati saja, tapi saya akan mengemukakan bagaimana sebuah perusahaan sekelas internasional membina masyarakat Indonesia di sekitar daerah eksploitasi sumberdaya alam yang boleh di bilang “Tahu padahal tidak tahu – tidak butuh padahal butuh – memiliki padahal tidak memiliki – bisa padahal tidak bisa”
Tujuannya hanya satu, agar pemerintah (walaupun saya juga orang pemerintah) tahu bahwa masih ada masyarakat Indonesia yang masih memerlukan pendidikan yang mapan. Bukan hanya Jakarta yang selalu membahas uang Triliunan rupiah yang di jarah oleh para Koruptor. Pendidikan yang mapan dan layak juga dibutuhkan. Saya akan lanjtkan posting ini di jilid 2. Dengan judul “Prilaku Masyarakat Sekitar Daerah Eksploitasi Sumber Daya Alam”
Dear Pak,
disini saya ingin menanyakan adakah kesempatan bagi kita rakyat biasa untuk supplai kebutuhan di chevron??jika bisa syarat2 nya apa??
terima kasih.
kami ingin sekali menjadi vendor di Chevron Indonesia untuk pengadaan komputer dll.. mohon syarat & ketentuan info ke kami.. Tks
kami ingin menjadi vendor di chevron untuk pengadaan komputer dan lainnya, mohon info syarat & ketentuan, tks
Pak
bisa bantu cara untuk bisa jadi supplier chevron?
terima kasih