Jan
3
Berdasarkan Kajian Penerapan Ekologi Industri yang telah dilakukan oleh Deni Swantomo, Maria Christina P., dan Kartini Megasari, strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industri ada empat elemen utama yaitu: mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energi yang tidak terbarukan. Dengan menerapkan konsep ekologi industri, kawasan industri dapat mengembangkan sistem pertukaran limbah yang dapat bermanfaat bagi industri tersebut. Indonesia sebagai negara agraris dapat mengembangkan ekologi industri berbasis agroindustri. Hasil dari kajian yang mereka lakukan yaitu berupa keuntungan yang dapat diperoleh yaitu penurunan jumlah konsumsi energi fosil, sumber daya alam, dan mengurangi dampak lingkungan. Selain itu biaya produksi juga dapat dikurangi.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang sedang memacu pertumbuhan industri. Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah dengan membangun kawasan-kawasan industri terpadu. Pada awal perkembangan kawasan industri di Indonesia masih berupa kumpulan industri yang ditata dengan terpadu namun masih terpisah satu sama lain. Karakteristik kawasan industri di negara berkembang termasuk di Indonesia adalah:
- Ketersediaan sumber daya alam yang masih melimpah dan disubsidi pemerintah.
- Bahan baku lebih murah dibandingkan dengan proses daur ulang bahan.
- Pembuangan limbah atau polusi masih kurang diawasi secara ketat.
- Kurangnya perhatian masyarakat konsumen pada dampak negatif proses produksi terhadap lingkungan.
Seiring dengan meningkatnya jumlah industri dan keterbatasan sumber daya alam yang ada maka konsep kawasan industri perlu diubah. Di Indonesia pernah dilakukan studi tentang penerapan ekologi industri yang dilakukan Universitas Kaiserslautern Jerman dengan BPPT dan Universitas Diponegoro pada tahun 2000. Kajian awal difokuskan pada kawasan industri Zona Industri Manis di Tangerang dan Lingkungan Industri Kecil Bugangan Baru di Semarang. Hasil studi awal menjelaskan terdapat beberapa industri yang tertarik untuk menerapkannya. Dalam kawasan tersebut mulai dirancang proses industri logam alumunium dengan bahan baku dari limbah alumunium. Hasilnya lebih menguntungkan dibandingkan bila menggunakan bahan baku dari mineral alam. Masalah ketersediaan air untuk proses industri masih terjadi sehingga perlu dipikirkan untuk dibuat industri baru dalam kawasan yang dapat mengolah ulang air proses dari tiap-tiap industri. Hasil akhir kajian ini berupa studi awal potensi kawasan industri di Indonesia untuk dikembangkan menjadi kawasan ekologi industri.
Di Indonesia perkembangan industri telah diantisipasi oleh pemerintah dan DPR selaku pembuat kebijakan dengan membuat berbagai peraturan tentang penataan kawasan industri terpadu dan perlindungan lingkungan. Salah satu yang menjadi hambatan adalah implementasi di lapangan dan pengawasannya. Dukungan dari pemerintah sebenarnya dapat menjadi peluang untuk menerapkan ekologi industri di Indonesia.
Kawasan industri di Indonesia pada umumnya berupa kumpulan industri yang belum memiliki hubungan satu dengan yang lain. Sebagai contoh adalah Lingkungan Industri Kecil (LIK) Bugangan Baru yang terletak di Semarang terdiri dari 486 industri skala menengah dan kecil. Jenis industri yang ada diantaranya industri makanan, minuman, cat, kertas, alkohol, percetakan, keramik, logam, furnitur, plastik, bahan kimia, elektronik, dan kosmetik. Pada kawasan industri ini belum terdapat sistem ekologi industri. Dalam kawasan industri tersebut tidak terdapat sistem pertukaran limbah yang dapat saling dimanfaatkan sebagai bahan baku. LIK Bugangan Baru telah terdapat sistem pengumpulan limbah terpadu dan dikirim ke instalasi pengolahan limbah terpadu walaupun skalanya masih kecil. Limbah yang dihasilkan dilakukan pengolahan kemudian dibuang ke lingkungan. Sistem pengolahan limbah masih bersifat solusi akhir atau pendekatan end of pipe. Dengan metode ini limbah masih dianggap menjadi beban biaya tambahan yang harus ditanggung dan masih berpotensi merusak lingkungan. Pemerintah masih berkesan melindungi industri-industri yang kurang memperhatikan keselamatan lingkungan dengan alasan mengutamakan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional.
Tahapan pendirian suatu industri dimulai dengan penemuan proses pada tahap riset, kemudian dilanjutkan dengan tahap pengembangan dan perancangan proses, peralatan, evaluasi ekonomi, konstruksi, serta operasi. Dalam perancangan industri harus feasible secara teknis, ekonomis, memperhatikan aspek keselamatan yang maksimal dan mempunyai dampak lingkungan yang minimal. Dengan memasukkan pertimbangan aspek lingkungan pada tahap perancangan, akan dapat dihasilkan suatu industri yang tidak hanya lebih ekonomis tetapi juga berwawasan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih bahan baku dan proses yang menghasilkan sedikit limbah atau menghasilkan limbah tetapi dapat dimanfaatkan kembali secara berkelanjutan. Konsep industri berwawasan lingkungan sangat penting untuk diterapkan mengingat daya dukung alam semakin menurun dibandingkan pertumbuhan industri yang begitu cepat.
Ekologi industri sebenarnya menawarkan solusi untuk menciptakan pembangunan industri yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dalam konsep ekologi industri kawasan industri ditata sedemikian rupa sehingga industri-industri mempunyai hubungan simbiosis mutualisme. Industriindustri di dalam kawasan saling terhubung untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses produksinya.
Gambar 1. Tipe Kawasan Industri
Konsep ekologi industri ini adalah konsep pemanfaatan bahan baku dan energi yang optimal dengan tidak merusak lingkungan. Integrasi antar industri diperlukan untuk pencegahan dampak kerusakan lingkungan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan bagi industri.
Dalam perancangan suatu kawasan ekologi industri terdiri dari beberapa tahap analisis proses yaitu analisis aliran material dan energi, analisis ketersediaan sumber daya alam regional, analisis ulang masalah aktual yang dihadapi dan penetapan skala prioritas. Dalam analisis aliran material dan energi digunakan untuk mengidentifikasi bahan baku dan energi pada setiap tahapan proses produksi. Analisis ini juga meliputi analisis integrasi massa dan energi proses. Tujuan analisis ini adalah penghematan penggunaan sumber daya alam, menganalisis penggunaan bahan baku yang lebih ramah lingkungan dan pengurangan dampak lingkungan. Analisis ketersediaan sumber daya alam regional digunakan untuk menganalisis ketersediaan bahan baku, dampak negatif penggunaannya terhadap sumber daya yang lain. Setelah mengetahui hasil analisis di atas maka dapat dilakukan identifikasi ulang masalah-masalah aktual yang dihadapi. Penyelesaian masalah-masalah yang ada harus bisa dikomunikasikan dengan industri lain yang terkait dalam kawasan tersebut. Pada akhirnya akan dapat disusun simbiosis industri yang saling menguntungkan diantara industri tersebut.
Indonesia sebagai negara agraris yang besar sangat berpeluang untuk dikembangkan kawasan ekologi industri berbasis industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri). Penduduk Indonesia yang mayoritas sebagai petani harus tetap menjadi fokus untuk terus dikembangkan kesejahteraannya. Penataan kawasan ekologi industri dapat dimulai dari pendirian kawasan industri terpadu di dekat kawasan pertanian masyarakat. Sebagai contoh kawasan ekologi industri berbasis industri pengolahan tebu ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Kawasan Ekologi Agroindustri
Gambar kawasan ekologi industri di atas menjelaskan proses penataan kawasan dimulai dari kawasan pertanian tebu rakyat. Hasil tebu diproses di industri gula menghasilkan produk gula dan produk samping tetes tebu serta selulosa. Tetes tebu digunakan sebagai bahan baku industri penyulingan etanol sedangkan serat selulosa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas. Pada industri kertas dihasilkan produk kertas dan limbah lumpur yang telah diolah dapat menjadi bahan baku industri pupuk organik. Industri penyulingan etanol dapat menghasilkan produk etanol dan efluen yang dapat dijadikan bahan baku industri biogas. Industri biogas dapat menghasilkan energi yang dapat memasok kawasan tersebut. Limbah–limbah yang dihasilkan telah sangat berkurang kuantitas dan sifat toksisitasnya. Limbah tersebut diolah secara terpadu sehingga dihasilkan limbah yang ramah lingkungan. Air limbah yang telah diolah dapat juga dikembalikan sebagai air proses di industri.
Saat terbaik untuk memasukkan pertimbangan penerapan ekologi industri adalah pada tahapan awal perancangan proses, yaitu pada saat riset dan pengembangan proses. Hal ini disebabkan kebijakan yang dibuat pada saat awal pengembangan proses seringkali akan menentukan aktifitas pengembangan pada tahapan selanjutnya, seperti dalam hal pemilihan jenis peralatan, material, dan kondisi proses. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dengan mengarahkan isu lingkungan pada awal siklus pengembangan, masalah teknis dan nonteknis (konsekuensi ekonomis dan peraturan perundangan) yang akan muncul di depan dapat diantisipasi. Hal ini dapat mereduksi resiko teknis dan ekonomis yang berkaitan dengan isu lingkungan.
Kawasan ekologi industri dapat diimplementasikan dengan baik jika masingmasing industri dalam kawasan tersebut dapat saling terbuka dan terhubung dengan baik. Dalam hal ini diperlukan kesepakatan bersama tentang pengelolaan kawasan industri bersama dengan tetap berpegang pada prinsip ekonomi dan keselamatan lingkungan. Penerapan kawasan ekologi industri di Indonesia saat ini masih pada tahap pengembangan dan masih sangat sedikit kawasan industri yang menerapkannya. Hal ini disebabkan adanya ketakutan industri untuk membagi informasi tentang bahan baku, proses produksi, dan limbah apa yang dihasilkan. Industri masih menganggap informasi tersebut dapat disalahgunakan oleh industri lain untuk meniru produknya. Peran pemerintah dan masyarakat sebagai konsumen sangat diperlukan untuk mendorong industri menerapkan ekologi industri. Pemerintah dapat berperan dalam pembuatan kebijakan peraturan dan pemberian insentif bagi industri yang menerapkan ekologi industri. Masyarakat sebagai konsumen dapat menekan industri dengan memilih produk yang dihasilkan dari proses yang ramah lingkungan.
Sumber: http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2008/06/28-deni-hal-291-299.pdf
Comments
Leave a Reply



