Dec
22
Ekologi industri merupakan suatu kajian yang masih baru menggunakan pendekatan sistem dalam studi-studinya untuk mengitegrasikan antara sistem industri dan alam serta mencari cara-cara untuk mendesain ulang sistem tersebut. Ekologi industri merupakan salah satu konsep untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan.
Tujuan utama ekologi industri adalah untuk memajukan dan melaksanakan konsep-konsep pembangunan berkelanjutan, baik itu secara global, regional, ataupun tingkat lokal, dengan mecoba menemukan antara kebutuhan generasi sekarang dengan generasi yang akan datang. Ada 3 prinsip kunci pembangunan yang berkelanjutan yang menjadi tujuan ekologi industri, yaitu:
1. Penggunaan Sumber Daya Alam Yang Berkelanjutan
Ekologi industri mengembangkan prinsip untuk lebih mengutamakan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.Aktivitas industri bergantung pada ketersediaan sumber daya alam yang kuat (steady supply of resources), sehingga untuk itu perlu mengatur pemanfaatannya secara lebih efektif dan efisien. Menipisnya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan rusaknya sumber daya alam yang dapat di perbaharui (seperti hutan) harus dapat diminimalisir agar aktivitas industri dapat berkelanjutan dalam jangka waktu lebih lama.
2. Menjamin Mutu/Kualitas Hidup Masyarakat Sekitarnya
Manusia merupakan satu-satunya komponen dalam interaksi yang ada dalam ekologi yang komplek. Aktivitas-aktivitas manusia tidak dapat dipisahkan dari fungsi-fungsi keseluruhan sistem. Karena kualitas hidup manusia bergantung pada kualitas komponen-komponen lain dalm ekosistem, struktur dan fungsi ekosistem, sehingga hal ini harus menjadi fokus dalam konsep ekologi industri. Bagaimana caranya agar aktivitas-aktivitas industri tidak menyebabkan bencana kerusakan bagi ekosistem atau secara perlahan merusak struktur dan fungsi ekosistem itu sendiri, yang membahayakan sistem kehidupan.
3. Memelihara Kelangsungan Hidup Ekologi Sistem Alami (Environmental Equity)
Tantangan yang utama bagi pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana upaya untuk mencapai suatu keadilan bagi antargenerasi dan antar masyarakat (intergeneational dan intersociental equity). Menghabiskan sumber daya alam dan merusak kualitas ekologi demi mencapai tujuan jangka pendek dapat membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ketidakadilan antar masyarakat juga mucul, sebagai fakta bahwa tidak adanya keseimbangan penggunaan sumber daya alam antara negara maju dengan negara berkembang, dimana terjadi ketidak sesuaian atau kesinambungan pengguna sumber daya alam yang digunakan negara-negara maju dibandingkan di negara-negara berkembang.
Indonesia sebagai negara agraris yang besar sangat berpeluang untuk dikembangkan kawasan ekologi industri berbasis industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri). Penduduk Indonesia yang mayoritas sebagai petani harus tetap menjadi fokus untuk terus dikembangkan kesejahteraannya. Penataan kawasan ekologi industri dapat dimulai dari pendirian kawasan industri terpadu di dekat kawasan pertanian masyarakat. Sebagai contoh kawasan ekologi industri berbasis industri pengolahan tebu.
Kawasan ekologi industri tebu dimulai dari kawasan pertanian tebu rakyat. Hasil tebu diproses di industri gula menghasilkan produk gula dan produk samping tetes tebu serta selulosa. Tetes tebu digunakan sebagai bahan baku industri penyulingan etanol sedangkan serat selulosa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas. Pada industri kertas dihasilkan produk kertas dan limbah lumpur yang telah diolah dapat menjadi bahan baku industri pupuk organik. Industri penyulingan etanol dapat menghasilkan produk etanol dan efluen yang dapat dijadikan bahan baku industri biogas. Industri biogas dapat menghasilkan energi yang dapat memasok kawasan tersebut. Limbah–limbah yang dihasilkan telah sangat berkurang kuantitas dan sifat toksisitasnya. Limbah tersebut diolah secara terpadu sehingga dihasilkan limbah yang ramah lingkungan. Air limbah yang telah diolah dapat juga dikembalikan sebagai air proses di industri.
Kawasan ekologi industri dapat diimplementasikan dengan baik jika masingmasing industri dalam kawasan tersebut dapat saling terbuka dan terhubung dengan baik. Dalam hal ini diperlukan kesepakatan bersama tentang pengelolaan kawasan industri bersama dengan tetap berpegang pada prinsip ekonomi dan keselamatan lingkungan.
Sebagai salah satu contoh lagi adalah ekologi industri sapi.Pada bulan desember 2008, pemerintah provinsi NTB mencanangkan program unggulan Bumi Sejuta Sapi, yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi NTB untuk pengembangan sapi. Program NTB Bumi Sejuta Sapi (NTB BSS) disetujui sebagai program unggulan nasional dalam rangka mendukung program swasembada daging nasional dan dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Departemen Pertanian.
Saat ini populasi sapi di NTB sekitar 520.000 ekor. Dalam tiga sampai empat tahun mendatang, ditargetkan bisa mencapai satu juta ekor untuk memenuhi kebutuhan domestik menuju swasembada daging nasional. Populasi sapi yang sangat besar ini merupakan potensi besar jika dilakukan pengembangan dan pemberdayaan menuju ekologi industri. Dimana beberapa industri dioptimasi dalam hal energi, bahan baku, dan berbagai utilitas dalam suatu proses industri sangat dibutuhkan. Keuntungan lainnya dari implementasi industrial ecology yaitu minimasi limbah dan dampak lingkungan yang menyertai menjadi proses industri agar sesuai dengan regulasi dan keinginan konsumen.
Sesuai dengan konsep industrial ecology, sumber daya sapi yang ada di NTB dapat menintegrasikan berbagai industri terkait dalam upaya mencapai pembangunan berkelanjutan. Ide yang kami tawarkan dalam pengelolaan peternakan sapi menuju konsep industrial ecology yaitu mengintegrasikan peternakan dengan industri lainnya dalam sistem yang berorientasi pada hal fisik, kimia, dan interaksi biologi dalam satu sistem industri. Diantara industri yang diidentifikasi diperlukan dalam usaha industrial ecology ini diantaranya:
- Industri energi biogas dari kotoran sapi,
- Industri pupuk organik dari sisa biodiegester,
- Industri kornet daging sapi,
- Industri perikanan air tawar
- Industri kerajinan kulit
- Industri kerupuk kulit sapi
- Usaha pertanian dan pakan ternak sapi
Dalam penerapan ekologi industri pada peternakan sapi, perlu diperhatikan kuantitas dan lokasi peternakan. Dalam konsep ini, sangat cocok diterapkan untuk peternakan besar atau kelompok ternak dalam satu wilayah yang berdekatan. Hal ini dikarenakan untuk optimalisasi dan efisiensi transportasi, sumber daya manusia, dan teknologi. Jika dihitung secara kasar, konsep ini membutuhkan ternak sapi minimal 20 ekor sapi. Sapi yang yang dikembangkan adalah sapi potong.
Sumber:
- Konsep Struktur Ruang Kawasan Jambi Argo –Industrial Park-Bab 7
- “KAJIAN PENERAPAN EKOLOGI INDUSTRI DI INDONESIA” DENI SWANTOMO,MARIA CHRISTINA,P., KARTINI MEGASARI
-www.sasak.org/univ-ks/52-pertanian/1287-program-bumi-sejuta-sapi-dan-implementasi-ekologi-industri.html
Comments
Leave a Reply
Saya Boy Macklin, profesi saya sebagai staf pengajar Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung, peneliti, dan teknopreneur. Artikel didalam situs ini diijinkan untuk di copy, diperbanyak, dan dimodifikasi dengan tetap mencantumkan nara sumber dan alamat lengkap URL artikel. Kembangkan wawasan dan kemampuan kita dalam sebuah kreatifitas online.