Dec
16
Sejak akhir Perang Dunia II pada tahun 1945, dolar di Amerika Serikat telah menjadi mata uang sentral dalam transaksi-transaksi dunia. Pada awalnya dolar AS begitu dominan, namun pada tahun 2002 muncul keraguan tentang berlanjutnya kekuatan dolar. Kelemahan utama dolar AS adalah defisit rekening yang menonjol dan di perkirakan dapat mencapai AS $465 miliar pada tahun 2002. Neraca Pembayaran sebuah Negara merupakan indicator yang sangat penting mengenai apa yang bias terjadi terhadap perekonomian Negara, apabila neraca pembayaran berada dalam defisit, inflasi sering kali menjadi sebab tindakan pasar, seperti melakukan deflasi perekonomian atau mendevaluasi mata uang, atau tindakan non pasar seperti pengendalian mata uang. Tidak ada satu negara pun yang terbebas dari dampak resesi ekonomi dunia dan pengetatan kredit di pasar global. Setiap negara kini hanya berupaya menahan pelambatan yang lebih dalam. Bagaimana dengan perekonomian Indonesia? Tiap-tiap negara mencoba menahan perlambatan sekaligus mempercepat pemulihan dengan berlomba-lomba mengucurkan stimulus fiskal dan moneter berupaya menurunkan suku bunga acuan sejak krisis ekonomi mulai tercium.
Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan paket stimulus fiskal sebesar 819 miliar dollar AS atau sekitar Rp.9000 triliun. Jerman akan mengucurkan sekitar Rp 50 miliar euro atau sekitar Rp 750 triliun. Dari sisi moneter, bank-bank sentral secara agresif terus memangkas suku bunganya. Bank Sentral AS, Federal Reserve, hanya menyisakan besaran 0,25 persen untuk suku bunga acuannya. Ini artinya, hampir tidak ada ruang lagi untuk stimulus moneter. Jepang bahkan memangkas suku bunga acuannya hingga nol persen.
Dengan kegagalan Amerika Serikat mencoba metode pasar untuk mengakhiri deficit neraca pembayaran dan usaha-usaha lainya yang kurang berhasil, maka dolar menumpuk di tangan asing, termasuk di bank sentral pemerintah. Bank-bank sentral luar negeri bersedia menerima begitu banyak dolar utamanya karena dolar itu diperlukan sebagai asset cadangan sentral yang memberikan pertumbuhan likuiditas untuk mendukung perdagangan dan keuangan dunia yang sedang tumbuh. Alasan lain orang asing menerima begitu banyak AS$ adalah karena dolar memberikan likuiditas untuk mendukung perdagangan dan investasi dunia, yang tumbuh dengan cepat di era pasca Perang Dunia II. Orang-orang asing memerlukan dan menginginkan jumplah dolar yang meningkat untuk berbagai tujuan, tetapi menjadi panic ketika jumplah dolar yang mereka pegang melebihi jumplah emas.
Pada 1997, beberapa negara Asia mengalami turunnya nilai saham dan property begitu investor asing dan local sama-sama menjual dan mencoba menukarkan mata uang lokal dengan dolar. Pada Januari 1998, nilai rupiah Indonesia menurun sebesar 70%. Rupee India kehilangan sekitar 10% dari nilainya, dan won Korea Selatan serta Peso Filipina melemah secara cukup tajam terhadap dolar. Pada tahun 2000, sebagian besar dari perekonomian Asia kembali normal dan mata uang mereka telah mendapatkan kembali nilainya dalam AS$ dan mata uang lain.
Sebelum kawasan ini mengalami gangguan, ada dua kelompok pemikiran tentang mengapa hal itu terjadi. Satu kubu menghubungkan sukses mereka dengan pemerintah bijaksana dan kuat; yang lain menekankan pada kekuatan pasar bebas. Ketika berbagai perekonomian itu mulai hancur, dua kubu berubah sisi, masing-masing menyalahkan pasar yang histeris dan pemerintah yang tidak pandai dan korup.
Ketika perdagangan intraregional telah menjadi saling tergantung, Asia Timur mulai tidak terlalu mengandalkan pada perekonomian AS. Ketergantungan itu telah semakin diperlemah oleh pertumbuhan di pasar-pasar Eropa dan Jepang.
Mata Uang Big Mac (Big Mac Currencies) dan Kaitannya dengan Teori Paritas Tenaga Beli
Hamburger Big Mac dianggap sama di setiap McDonald’s di seluruh dunia. Karena, harganya dalam mata uang sebuah Negara dibandingkan dengan harganya dalam mata uang Negara kedua seharusnya sama dengan kurs antara kedua mata uang itu. Peramal nilai mata uang menghadapi masa sulit akhir-akhir ini. Kebanyakan orang menduga euro akan naik setelah peluncurannya pada tahun 1999, namun ternyata jatuh. Jadi, untuk membantu para peramal benar-benar memahami kurs, The Economist telah memuakhirkan Indeks Big Mac. Diformulasikan 16 tahun yang lalu sebagai pedoman untuk mengetahui apakah berbagai mata uang berada pada level yang “tepat”, indeks ini didasarkan pada teori paritas tenaga beli (purchasing-powers parity-PPP). Dalam jangka panjang, nilai tukar Negara-negara akan bergerak kearah kurs yang akan menyamakan harga. Contohnya Big Mac McDonald’s, yang diproduksi 120 negara. PPP Big Mac adalah nilai tukar (kurs) yang akan membuat penetapan biaya hamburger yang sama di Amerika seperti di tempat lain. Membandingkan hal ini dengan kurs yang sebenarnya menandakan apakah suatu mata uang dinilai terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Dolar Australia adalah mata uang negara kaya yang dinilai terlalu rendah, 35% dibawah McParity. Tidak mengherankan perekonomian Australia begitu kuat tahun lalu. Pound Sterling sebaliknya merupakan salah satu di antara sedikit mata uang yang dinilai terlalu tinggi terhadap dolar, dengan 16% dan terlalu kuat 21% terhadap euro.
Secara keseluruhan, dolar sekarang tampak lebih dinilai terlalu tinggi terhadap rata-rata mata uang besar lainnya daripada kapan pun kehidupan Indeks Big Mac. Kebanyakan mata uang pasar yang sedang bangkit juga tampak murah terhadap dolar. Lebih dari separuh mata uang pasar yang sedang bangkit dinilai rendah 30%. Ini mengimplikasikan bahwa setiap mata uang pasar yang dekat dengan MC Parity (misalnya peso Argentina tahun lalu, atau peso Meksiko sekarang) akan dinilai lebih tinggi terhadap saingan-saingannya di pasar yang sedang muncul.
Penyesuaian kembali terhadap PPP tidak selalu datang melalui perubahan dalam kurs, namun berbagai mata uang dapat menyimpang dari PPP untuk jangka panjang. Pada awal 1990-an indeks Big Mac berulang-ulang memberi tanda bahwa dolar dinilai terlalu rendah, namun ia terus merosot selama beberapa tahun sampai hingga ia berbalik.
Pasar Uang Valuta Asing (Valas)
Sejak mata uang mulai mengambang dengan bebas pada atahun 1973, volume harian perdagangan valas di pasar uang seluruh dunia tumbuh dengan cepat sampai pada tahun 2001, ketika pertumbuhan melambat di pasar-pasar Eropa dan Amerika Uatara. Meski demikian, perputaran pasar harian rata-rata tahun 2000 adalah $1,2 triliun. London merupakan pasar (bursa) terbesar dunia, dengan 30% bagian dari perputaran valuta. New York di tempat kedua, sementara Asia, Tokyo dan Singapura sedang bertarung demi supermasi. Akhir pertumbuhan dan bahkan kemerosotan pasar-pasar devisa Eropa dan Amerika Utara disebabkan oleh beberapa faktor. Munculnya Uni Moneter Eropa menghentikan perdagangan di antara mata uang negara anggota, dan bahkan sebelum diberlakukan, mark Jerman, franc Prancis, mata uang negara-negara Benelux dan bahkan lira Italia hampir tidak bergerak terhadap satu sama lain.
Faktor lainnya yang memperlambat pasar-pasar valas adalah berhentinya bank-bank sentral menargetkan kurs yang tidak realistis. Pada tahun 1990-an para pedagang melakukan taruhan miliaran atas beberapa mata uang seperti Pound Sterling dan Lira. Faktor selanjutnya yang akan semakin menyusutkan pasa-pasar devisa lama adalah mesin pialang mata uang elektronik yang disediakan oleh para pialang elektronik Reuter dan EBS. Mereka memungkinkan bank-bank kecil sekalipun untuk mengetahui harga terbaik suatu mata uang uatama di pasar. Akhirnya mesin-mesin itu akan tersedia di kantor-kantor para manager bisnis internasional, yang kemudian dapat memperdagangkan valas melalui mesin pialang tanpa mengontak-atau membayar-suatu bank.
Mata Uang Asia
Mata uang negara-negara Asia tidak lagi dianggap sebagai eksotik, dan pasar-pasarnya berhenti. Mata uang yang lebih likuid adalah dolar Singapura, baht Thailand, rupiah Indonesia, ringgit Malaysia,dan dolar Hong Kong. Mata uang yang kurang likuid lainnya seperti won Korea Selatan, dolar Taiwan, peso Filipina, dan dong Vietnam, kadang-kadang disebut ”Asia minor”. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan. Pasar AS$-euro adalah yang paling sibuk, diikuti dengan ketat oleh pasar AS$-yen. Yang ketiga, keempat dan kelima adalah AS$_pound sterling, AS$-franc Swiss, dan euro-yen. Persentase dominasi AS$ sebagai mata uang paling banyak diperdagangkan semakin meningkat. Ini disebabkan oleh pertumbuhan pasar-pasar valuta asing Asia yang cepat seperti disebutkan di atas. Sebenarnya semua yang diperdagangkan di sana dilakukan melalui dolar. Meskipun merupakan mata uang yang paling banyak diperdagangkan, AS$ tidak perlu merupakan bagian dari setiap transaksi. Seperti diketahui, pasar mark-yen adalah besar, dan mata uang utama lainnya diperdagangkan tanpa melalui AS$. Karenanya, mata-mata uang tersebut dihitung terhadap satu sama lain, disebut sebagai kurs silang (cross rates of exchange). London, New York, dan Tokyo memiliki bursa-bursa valuta asing. Jumlah yang lebih kecil dari mata uang pasar utama lainnya juga diperdagangkan di luar perbatasan Negara yang mengeluarkan, dan semua mata uang ini digunakan sebagai asset cadangan nasional Negara dan juga dalam perdagangan, investasi, hedge, swap, dan derivative. Diawali pada tahun 1960, ada keinginan yang tumbuh untuk mengganti mata uang local atau emas dengan asset cadangan sentral. Diawali tahun 1970, IMF membentuk special drawing rights untuk tujuan itu.
SDR (Special Drawing Rights)
SDR (Special Drawing Rights) merupakan suatu langkah menuju mata uang internasional yang sesungguhnya. AS$ telah merupakan sesuatu yang paling dekat dengan mata uang demikian semejak emas dalam system standar emas pra Perang Dunia I, tetapi AS$ juga harus berperan sebagai mata uang nasional, dan kadang-kadang peranannya bertentangan satu sama lain. SDR, entri-entri pembukuan di IMF, diciptakan pada tahun 1970 berdasarkan persetujuan di antara anggota-anggota IMF, yang rekeningnya dikredit dengan jumlah-jumlah tertentu SDR dari waktu ke waktu. Tujuannya adalah untuk membuat SDR asset cadangan utama dalam system moneter internasional. Penggunaan SDR, Nilai SDR tetap lebih stabil daripada nilai sebuah mata uang manapun, dan stabilitas itu telah membuat SDR semakin menarik sebagai satuan dalam transaksi-transaksi internasional. Di masa depan pembayaran dalam sebuah kontrak misalnya, mungkin disepakati dilakukan dalam mata uang nasional dengan kursnya terhadap SDR pada tanggal pembayaran, dan beberapa bank Swis dan Inggris sekarang menerima rekening-rekening dengan denominasi dalam SDR. Nilai SDR terhadap dolar AS dihitung setiap hari oleh IMF sebagai jumlah nilai-nilai dalam AS$ berdasarkan kurs pasar sejumlah mata uang tertentu.
Pemegang SDR, SDR dipegang oleh IMF, sebagian besar dari 181 anggota negaranya, dan 16 lembaga-lembaga resmi, yang secara khusus merupakan lembaga-lembaga perbankan atau pembangunan regional yang ditentukan IMF. Semua pemegang dapat membeli dan menjual kedua SDR baik spot maupun berjangkan dan menerima atau menggunakan SDR dalam peminjaman, jaminan, barter, hibah atau penyelesaian kewajiban-kewajiban keuangan. Para pemegang menerima bunga dengan suku bunga yang ditentukan secara mingguan dengan referensi terhadap suku bunga rata-rata tertimbang atas kewajiban-kewajiban jangka pendek dalam pasar uang lima Negara yang mata uangnya termasuk dalam penilaian SDR.
SDR sebagai Aset Cadangan Sentral, Tujuan utama yang menjadi visi adalah untuk menggantikan mata uang dan emas sebagai asset cadangan sentral sebuah Negara. Setelah alokasi pertama 9 miliar SDR kepada para anggota pada tahun 1972, SDR merupakan 65,3% dan emas 24,5% dengan nilai $35 per ons. Alokasi SDR yang kedua pada tahun 1979 berjumlah 13 miliar, tapi cadangan total meningkat lebih cepat sehingga pada tahun 1983, SDR hanya merupakan 3,4% dari cadangan-cadangan sentral. Berbagai mata uang telah meningkat menjadi 78,7% dan emas jatuh menjadi 8,2% tetapi itu berada pada dasar penilaian emas $35 per ons.
Alokasi SDR terakhir kepada 141 negara IMF pada waktu itu dilaksanakan tanggal 1 Januari 1981, berjumlah SDR 4,1 miliar. Pada akhir tahun 1997, IMF telah menjalankan sejumlah SDR 21,4 miliar dalam enam lokasi tetapi Negara-negara anggota memegang SDR yang berjumlah hanya 2,3% dari cadangan total non emas total mereka. Pada sebuah seminar tentang masa depan SDR, pada tahun 1996 Stanley Fischer, deputy managing director IMF yang pertama, mengakui bahwa SDR tampaknya tidak akan menjadi asset cadangan utama dari system moneter Internasional. Ia juga meragukan bahwa SDR akan bergerak menjadi mata uang dunia yang utama.
Sistem Moneter Eropa (European Monetary System-EMS)
EMS diciptakan oleh kelompok Negara Eropa pada tahun 1979. Negara-negara anggota EMS sepakat untuk mempertahankan nilai mata uang mereka di dalam kisaran tertentu dalam hubungannya satu dengan yang lain. Fitur penting yang tidak tersedia bagi snake yang lama, adalah Dana Kerja Sama Moneter Eropa (EMCF).
Perbedaan lain antara EMS dan pendahulunya snake adalah bahwa kurs EMS bersifat fleksibel. Apabila sebuah Negara terbukti lebih lemah daripada yang lainnya dan pemerintah-pemerintah itu tidak dapat mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki keadaan itu, kurs EMS dapat diubah. Ada beberapa pengaturan kembali kurs sejak 1979. apabila sebuah Negara anggota snake tidak dapat memelihara mata uangnya sampai dengan kekuatan yang disepakati, ia dikeluarkan dan berhenti sebagai anggota.
European Currency Unit (ECU) ke Euro
European Currency Unit (ECU) dibentuk sebagai mata uang pembukuan EMS. Salah satu alas an mengapa ECU menjadi lebih popular daripada SDR adalah tidak adanya AS$ atau yen yang termasuk dalam keranjang mata uang yang menentukan nilainya. Kurs AS$ dan yen telah berfluktuasi jauh lebih besar daripada fluktuasi mata uang Eropa dalam keranjang ECU. Baik AS$ maupun yen berada dalam keranjang SDR, sehingga nilai SDR menjadi kurang stabil dibanding ECU.
Alasan lain penggunaan ECU melampaui SDR adalah dukungan aktif untuk ECU oleh berbagai pemerintah, bank dan dunia usaha Eropa. SDR belum menerima dukungan tersebut. ECU digunakan untuk berbagai tujuan, serta terdapat jaringan pendukung dan pelengkap. Rekening-rekening bank dapat didenominasi dalam ECU dan tersedia cek perjalanan ECU.
Euro telah menggantikan ECU dan telah menggantikan 12 mata uang nasional. Euro adalah mata uang eceran, sementara ECU hanya merupakan mata uang untuk perdagangan besar dan pasr debit. Nilai dan integritas euro diawasi oleh Bank Sentral Eropa
Prediksi pertumbuhan ekonomi 2009 pun terus di revisi, hingga akhirnya pada januari 2009 menetapkan pertumbuhan ekonomi dunia hanya sebesar 0,4 persen. Makin banyak negara yang diprediksi pertumbuhannya negatif, antara lain AS, negara Uni Eropa, Jepang, Kanada, dan Singapura. Situasi ini juga dialami oleh perekonomian Indonesia. Pengumuman stimulus fiskal sebesar Rp 73,3 triliun dan pemangkasan BI Rate paling dramatis sepanjang sejarah belum juga bisa menahan perlambatan ekonomi yang lebih dalam.
Stimulus fiskal dan moneter memang membutuhkan waktu untuk memberikan dampak terhadap kegiatan perekonomian. Semakin lambat respon terhadap stimulus, potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan masuknya perekonomian ke dalam jurang resesi yang dalam makin besar. Ini pada akhirnya akan memperparah krisis. Di sisi moneter, stimulus berupa pemotongan BI Rate sebesar 175 basis poin belum direspon perbankan dengan menurunkan bunga kreditnya.
Segmentasi likuiditas dan macetnya pasar uang antarbank yang membuat suku bunga deposito tetap tinggi masih saja jadi masalah. Akibat dari suku bunga kredit yang masih tinggi, kegiatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang seharusnya menjadi penopang sektor riil akhirnya juga terhambat. Pemerintah sebaiknya segera menjamin pinjaman antarbank agar segmentasi likuiditas terurai dan suku bunga dana bisa turun. Saat bersamaan, BI harus lebih keras mendorong bank menyalurkan kredit UMKM, yang sudah terbukti tahan krisis. Perbankan juga dituntut inovatif menciptakan skema pembiayaan UMKM.
————————————————————————————————–
Comments
2 Responses to “Seberapa Dalam Perlambatan?”
Leave a Reply
Saya Boy Macklin, profesi saya sebagai staf pengajar Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung, peneliti, dan teknopreneur. Artikel didalam situs ini diijinkan untuk di copy, diperbanyak, dan dimodifikasi dengan tetap mencantumkan nara sumber dan alamat lengkap URL artikel. Kembangkan wawasan dan kemampuan kita dalam sebuah kreatifitas online.
Itu semua PR bagi pemerintah kita yang baru mas untuk segera menyelesaikannya. Tapi sampai kapan?
Tapi untunglah ada yang membuat kita bangga, disaat Amerika “batuk-batuk” dan bangsa lain jadi “flu” kita hanya “bersin” sedikit saja. Harapan saya sebagai orang awam, semoga pertumbuhan ekonomi bangsa kita di tahun 2010 jauh lebih baik mas.
Betul mas… memang ini PR pemerintah kita… tp kita juga harus dong memantaunya…. kalo “bersin” terus juga bahaya mas… bisa jdi “flu burung” masa barung garuda “flu”