Guru Wajib Kaya…??
Selama ini Guru dan Dosen di Indonesia, boleh dibilang masih kurang menonjol dalam sebuah prestasi bisnis. Jarang sekali guru di Indonesia yang memiliki tingkat kehidupan yang layak. Banyak cerita bagaimana pengabdian guru di daerah terpencil mengeluarkan ongkos hidup yang sangat besar dan tidak sesuai dengan penghasilannya. Tidak sedikit Profesor di Indonesia yang notabene sebagai Gurubesar penghasilnnya di bawah standar hidup. Padahal jika dilihat kedua profesi itu sama-sama profesi yang memiliki resiko yang tinggi dalam menyimpangkan ilmu yang akan diajarkan. Ada sebuah tulisan menarik “Rektor UGM: UU dan Dosen Tak Bermanfaat“. Gambar di atas akan saya jadikan kasus, bagaimana seorang guru “Umar Puja Kesuma, S.Pd” melakukan sebuah manufer yang luar biasa, dan setidaknya bisa menjadikan inspirasi baru bagi para guru dan dosen. Pertanyaan yang mendasar adalah “Apakah Guru dan Doses itu Wajib Kaya..??? Apa kaitannya dengan artikel yang saya maksud??
Posting ini bukanlah sebuah provokasi ataupun sebuah penilaian yang buruk. Mohon maaf sekiranya ada fihak yang merasa tersinggung ataupun tidak berkenan. Saya masih terus berpikir sampai kapan predikat yang di berikat pada guru adalah “guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa” menjadi “guru sebagai pahlawan dengan tanda jasa”. Predikat tersebut terkesan bahwa profesi sebagai pengajar adalah profesi sebagai pengabdian tanpa batas. Bahkan saya pun berpikir akibat dari pernyataan Rektor UGM dalam sebuah media yang menyebutkan “Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Sofian Effendi menyatakan, Undang Undang Guru dan Dosen yang baru saja disahkan tidak lebih sebuah pepesan kosong.” Kalau dipikir bener juga yah… seperti pepesan kosong. Sekarang ini guru di haruskan untuk mengikitu program sertifikasi, dengan harapan tunjangan para guru naik dan sesuai dengan ke-profesionalismean-nya. Pepesan kosong yang dimaksud dengan Rektor UGM itu mungkin akan berdampak pada kecumburuan dikalangan PNS. Padahal guru itu tidak hanya dari guru DPK atau PNS saja, di swasta juga ada guru. Jika hanya guru PNS saja yang dibahas bagaimana nasib guru swasta, dosen swasta, dan para tenaga pengajar di swasta. Bisa jadi Diknas bukan lagi Pendidikan Nasional tetapi menjadi “Digri” yang hanya membahas Pendidikan Negeri saja. Saya sedikit mengulas sebuah pernyataan Rektor UGM, dari situs tetangga:
“….kesejahteraan dan jenjang kepangkatan yang jelas.
Kalau itu tetap dicantumkan, kata Sofian, pasti akan jadi sumber protes….”
Pernyataan itu bisa jadi Benar juga, tapi salah juga. Jika guru dan dosen hanya berpikir kesejahteraan dan jenjang kepangkatan yang jelas, saya kira dangkal sekali. Beban seorang guru itu menurut hemat saya jauh lebih berat daripada hanya sekedar kesejahteraan. Beban moril yang diemban seorang guru adalah, pertama guru sebagai Panutan. Hal ini sungguh dilema yang sulit, seorang guru harus selalu menjaga sikap baik prilaku maupun perbuatan. Padahal seorang guru sama seperti manusia biasa, tidak luput dari kesalahan. Kadang tidak sedikit guru yang prilakunya tidak baik dijadikan panutan, disinilah letak beban berat yang diemban seorang guru. Kedua, guru sebagai “Keran” ilmu, apa yang terjadi pada bangsa ini jika guru tidak mengucurkan semua ilmunya pada anak didiknya. Mungkin yang terjadi adalah kerpuhan generasi yang akan menimbulkan masalah efek domini. Saya mengambil contoh, di Jepang, kaisar takut sama gurunya (Sensei). Bukan karena galak, tapi tahu benar bahwa guru dan dosen adalah keran ilmu. Apa yang terjadi, lihat bagaimana Jepang dapat cepat berkembang negaranya, karena mereka menghargai seorang guru tidak hanya dilihat dari unsur kesejahteraan belaka, tetapi memandang guru adalah sumber ilmu bagi mereka.
Memang beberapa fakta bisa dilihat kebutuhan dasar untuk Guru dan Dosen, bisa dirinci sebagai berikut (kebutuhan yang umum);
- Kebutuhan untuk “meng-upgrade” pengetahuan. Bagaimana caranya? Beli buku baru dan/atau buku terbaru atau edisi terbaru sesuai dengan bidang ilmunya.
- Jurnal, hasil penelitian terbaru.
- Koneksi Internet, untuk mengetahui info terbaru di bidang keilmuannya.
- Sosialisasi dengan komunitas.
- Biaya untuk membuat buku, dan lain-lain
Dari beberapa kebutuhan diatas, sudah pasti perlu biaya. Efeknya apa jika terpenuhi kebutuhan diatas? dan bagaimana jika tidak bisa terpenuhi? Belum lagi keperluan keluarga yang mendesak juga. Fenomena guru dibayar untuk demo, sebuah posting mas Umar menarik dengan judul “Wow! Gaji Guru Rp. 20.000,- Per Jam” dan bisa anda baca dengan pernyataan;
Memberikan les pada siswa diluar jam sekolah, Menjadi “Diktator” (menjual Diktat untuk nyicil moTor), dimana letak harga diri guru dimata siswanya kalau tahu gurunya serba kekurangan. Jadi bagaimana menurut anda menjawab pertanyaan “Apakah guru wajib kaya….??” Jawabannya apakah wajib atau tidak?
Jawabannya mungkin bisa wajib ataupun tidak dengan beberapa kondisi. Sekarang masalahnya, jika jawabannya wajib, maka bagaimana caranya? Tentunya bukan sekedar wajib saja, tetapi peningkatannya haruslah seimbang dengan kreatifitasnya.
Saya akan membahas sebuah kreatifitas guru bernama Umar Puja Kesuma, S.Pd. Apa yang dilakukan mas umar? Sebagai seorang guru mas umar melakukan sebuah kreatifitas online yang sangat memberikan prospek, walaupun sebenarnya tidak lazim juga kalo guru sejahtera bukan karena pemerintah yang memprakarsai tapi tergantung dari kreatifitas sendiri. Okey… kita lupakan dahulu tugas pemerintah, karena kalau semua bergantung pada pemerintah tidak bagus juga. Saya melihat disini mas umar melakukan sebuah kreativitas dengan berkarya lewat tulisan yang bisa dinikmati oleh orang banyak. Dari segi pengabdian, dengan memberikan tulisan dan melakukan konektivitas online sudah cukup bahkan luar biasa. Apalagi jika dilihat sarana yang digunakan tidak banyak memakan biaya yang besar.
Saya ikuti perkembangan bisnis guru yang dilakukan oleh mas umar, dan ternyata, banyak perubahan. Perubahan yang terjadi baik dari tampilan website hingga personal branding yang dilakukannya. Saya tidak kenal banyak mas Umar. Mas Umar ini adalah seorang guru, yang melakukan sebuah bisnis online. Saya yakin beliau memiliki tujuan untuk sesuatu yang lebih baik. Walaupun itu bisa dilihat awalnya dimulai dari sebuah bisnis yang orientasinya mencari profit, akan tetapi tidak hanya itu manfaat yang diperolehnya. Saya kira banyak yang dia peroleh, selain dari sisi finansial, setidaknya kreatifitas, pergaulan dalam sebuah komunitas blogging, pertambahan teman, pengalaman, dan wawasannya juga meningkat. Dan pada akhirnya tetap bermuara pada “knowledge for a better life“. Jika mas Umar membaca posting ini, semoga beliau tetap semangat untuk terus berkarya.
Nah… apakah guru itu sekedar wajib kaya?? posting ini bukanlah sebuah promosi, tapi saya mencoba (walaupun tidak sempurna) mengangkat sebuah fenomena di negeri tercinta Indonesia ini perhargaanya terhadap seorang guru. Rubahlah paradigma “Guru adalah Pahlawan tanpa tanda jasa” dengan paradigma baru “Guru adalah Pahlawan dengan tanda jasa” agar selalu ilmu yang dialirkannya selalu berkembang dan menghasilkan generasi yang cerdas, bukan kandas dimakan waktu. Terima kasih, semangat selalu kepada rekan guru. Terus berkarya dan anda wajib kaya dengan cara yang lebih elegan…
Comments
One Comment on Guru Wajib Kaya…??
-
Boy Macklin on
Wed, 25th Mar 2009 20:13
mas umar… untuk komen sudah bisa aktif.. maaf nih.. trouble terus.. trims
Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!



Saya