Tiga unsur Inovasi agar perusahaan BUMN dapat bersaing dengan perusahaan swasta

January 21, 2009 by
Filed under: Manajemen, Organisasi SDM, Psikologi Industri 

Kutipan artikel oleh Djamaludin Ancok, majalah INVESTOR edisi NOVEMBER 2008 kolom BUSINESS ENVIRONMENT. Semoga kondisi BUMN segera berubah dan dapat bersaing dengan perusahaan swasta (masuk dalam daftar “the Best Managed Company” pada level dunia). Jangan heran kalau BUMN sangat sulit bersaing dengan perusahaan swasta, karena BUMN tidak hanya dibatasi oleh ketentuan bisnis yang berlaku seperti WTO,dll, tetapi juga dibatasi oleh peraturan pemerintah selaku pemegang saham. BUMN bersaing dengan perusahaan swasta dalam keadaan terikat peraturan pemerintah yang tidak dialami oleh perusahaan swasta.

Ada tiga unsur faktor Inovasi (Cara baru berdasarkan penemuan baru) yang sulit diterapkan secara maksimal dalam BUMN, ketiga unsur ini ibarat sebuah segitiga sama sisi yang saling membutuhkan.

  1. Pekerja yang berkualitas

Jim Collin dalam buku “ From Good to Great” menyebutkan, salah satu persyaratan untuk menjadi perusahaan yang hebat (great company) adalah rekrutmen pekerja yang baik yang menjadi human capital bagi organisasi. Dalam pandangan ada minimal enam aspek modal manusia yang mendukung inovasi.

    • Modal intelektual yang diwujudkan dalam luasnya pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh dengan proses belajar terus menerus. Sumber inovasi disamping kreativitas individu pekerja juga akumulasi pengetahuan yang dimiliki pekerja.

    • Modal emosional yang ditandai oleh kemampuan bekerja untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Modal emosional membuat suasana kerja menjadi sangat enak karena emosi yang selalu fositif sehingga munculnya gagasan inofatif akan di hargai oleh rekan kerja mupun atasan.

    • Modal sosial berupa net-work kerja sama antar pekerja yang didasari oleh saling percaya.modal sosial yang baik dapat meningkatkan pengetahuan melalui berbagai proses pengetahuan. Modal sosial menjadi pengungkit pengembangn modal intelektual.

    • Modal keuletan yang menjadikan ketabahan pada para pekerja dalam menghadapi tantangan pekerjaan. Inovasi menuntut kerja keras dan ketabahan dalam menghadapi beberapa hambatan dalam proses berinovasi. Inovasi menuntut kerja keras dan cerdas.

    • Modal moral dan integritas, Inovasi menuntut adanya orisinalitas. Oleh karena itu kejujuran harus dimiliki agar pekerja tidak mencuri gagasan orang lain secara mentah-mentah ( tanpa di olah dengan gagasan sindiri ).

    • modal kesehatan fisik adalah wadah yang mendukung semua modal yang lainnya. Jika kita sakit badan dan fikiran kitapun bisa jadi terganggu.

2. Kepemimpinan Transformasional

Pemimpin seringkali menjadi pembunuh berdarah dingin untuk menjadi gagasan yang inovatif. Pemimpin yang otoriter sering kali tidak mau menjadi pendengar gagasan dari pekerja, kalupun dia mau mendengarkan gagasan bawahannya nuansanya sangat negatif, yaitu selalu mencari titik kelemahan gagasan tersebut bukan melihat sisi fositif dari gagasan tersebut.Perilaku inovatif dalam perusahaan akan berkembang pesat kalau pemimpin bersifat apresiatif terhadap setiap gagasan. Segila apapun gagasan yang dimunculkan pekerja pemimpin perlu menghargainya. Sifat apresiatif pimpinan ini akan memotifasi orang untuk berinovasi.

Pemimpin yang transformasional memiliki kemampuan untuk menginspirasi pekerja (inspirational motivation). Pemimpin yang inspirasional mengajak orang untuk memajukan perusahaan melelui gagasan inovatif agar perusahaan menjadi perusahaan terbaik yang memeberikan manfaat pada semua lapisan stake-holder.

Selain itu pemimpin transformasional selalu merangsang orang untuk berfikir dan mencoba gagasan baru. Sifat seperti ini akan membuat pekerja rajin mencari inofasi baru. Ciri pemimpin transformasional yang lain, adalah menjadi suri teladan dalam prilaku inovasi, sehingga pekerja tergerak untuk berinovasi karena sudah diberi contoh oleh pemimpinya.

Dalam budaya masyarakat indonesia keteladanan sang pemimpin sangat penting bagi kariyawan. Jika pemimpin inovatif lebih besar kemungkinan pekerjaanya juga akan inovatif.ciri keempat dari pemimpin transformasional adalah peduli pada pekerja secara personal. Berinovasi menuntut tersedianya sumberdaya seperti waktu, fasilitas kerja dan dana. Pemimpin yang peduli terhadap sumber daya ini akan memacu pekerja untuk berinovasi.

3. Dinamis tidak terkotak-kotak

Bagaimana organisasi dirancang dari struktur dan proses bisnisnya akan menentukan apakah perusahaan akan kaya dengan inovasi. Organisasi yang kaku, tekotak-kotak dan hirarkikal akan menghambat proses inovasi. Organisasi demikian membuat inovasi tidak berjalan lancar karena harus meminta persetujuan kepada atasan untuk setiap usaha inovatif.

Struktur biasanya sangat terkait dengan sistem pengambilan keputusan. Sulitnya memperoleh persetujuan untuk memperoleh sumberdaya untuk merealisasikan inovasi membuat pekerja inovasi frustasi dan menghentikan inovasi yang dilakukan. Selain itu organisasi yang terkotak-kotak akan menghambat terjadinya proses penambahan pengetahuan melalui proses berbagai pengetahuan.

Pada perusahaan inovatif, organisasi dibuat tanpa batas atau dengan lintas fungsi agar proses penambahan pengetahuan terpacu dengan baik. Selain itu peraturan perusahaan lebih memberikan kebebasan untuk berinovasidengan kelenturan dalam peraturan untuk meneluarkan sumberdaya pendukung inovasi.

Ketiga faktor inovasi tersebut seringkali sulit untuk disenegrikan secara maksimal dalam BUMN. Kekakuan dalam berorganisasi yang disebabkan oleh rigiditas peraturan pemerintah selaku pemegang saham, dan masih di auditnya organisasi oleh badan pemerintah seperti BPK membuat pimpinan menjadi tidak bebas di dalam memfasilitas proses inovasi selain itu proses inovasi terkadang terhambat oleh adanya penjabat menjadi direksi atau kominsaris BUMN yang berasal dari lembaga pemerintah yang prilakunya sangat birokratik.

Comments

Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!