Pemanfaatan Limbah Nilam

January 5, 2009 by
Filed under: Agro TechnoPark, Tek. Pengelolaan Limbah 

Nilam (Pogestemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting, baik sebagai sumber devisa negara dan sumber pendapatan petani. Dalam pengelolaannya melibatkan banyak pengrajin serta menyerap ribuan tenaga kerja. Teknologi pengolahan minyak nilam ditingkat petani umumnya masih tradisional hal ini disebabkan oleh faktor sosial ekonomi dan faktor terbatas-nya teknologi yang diakses sehingga minyak yang dihasilkan mutunya masih rendah. Penge-ringan bahan baku nilam lebih baik tidak lang-sung pada sinar matahari dan penyimpanan bahan tidak lebih dari 1 minggu karena akan menurunkan produksi minyak nilam.

Minyak nilam memiliki potensi strategis di pasar dunia sebagai bahan pengikat aroma wangi pada parfum dan kosmetika (Ditjen Perkebunan, 2006). Prospek ekspor minyak nilam dimasa datang masih cukup besar sejalan dengan semakin tingginya permintaan terhadap parfum dan kosmetika, trend mode dan belum berkembangnya materi subsitusi minyak nilam di dalam industri parfum maupun kosmetika.

Nilam berasal dari daerah tropis Asia Tenggara terutama Indonesia dan Philipina, serta India, Amerika selatan dan China (Grieve, 2003). Di Indonesia, sentra produksi nilam di propinsi Nanggroe Aceh Darusalam dan Sumatera Utara. Pada sentra tersebut melibatkan banyak pengrajin serta menyerap ribuan tenaga kerja. Sebagai penghasil minyak nilam terbesar, Propinsi Nanggroe Aceh Darusalam memberikan kontribusi 70 % terhadap produksi nasional (Anonimous, 2003). Walaupun tanaman nilam telah dibudidayakan selama hampir 100 tahun, di daerah penghasil utama (Aceh dan Sumatera Utara), namun sampai sekarang teknologi pengolahan hasilnya masih tertinggal sehingga mutu minyak yang dihasilkan masih rendah.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor sosial ekonomi petani dan faktor teknologi yang diakses masih terbatas. Minyak nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang digunakan dalam industri parfum, sabun dan kosmetika disamping itu juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan dapat dimanfaatkan sebagai aroma terapi. Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan daun, batang dan cabang tanaman nilam. Kadar minyak tertinggi terdapat pada daun dengan kandungan utamanya adalah patchauoly alkohol yang berkisar antara 30 – 50 %. Aromanya segar dan khas dan mempunyai daya fiksasi yang kuat, sulit digantikan oleh bahan sintetis (Rusli, 1991).

Negara-negara pengimpor utama adalah Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Jepang dan Australia. Saat ini harga minyak nilam Indonesia dipasaran dunia sangat berfluktuasi. Pada tahun 1986 – 1997, harga minyak nilam berkisar antara Rp.20.500,- – Rp. 40.000,-/kg sedangkan pada tahun 1997 – 1999, pernah mencapaiRp. 1.100.000,- – Rp. 1.400.000,- /kg dan pada tahun 2004 harga minyak nilam menjadi Rp.162.000,-/kg. Hal ini adalah karena produksi minyak nilam Indonesia tidak stabil dan mutunya tidak tetap serta beragam. Tidak stabilnya produksi dan mutu minyak nilam Indonesia disebabkan karena teknologi pengolahannya yang belum berkembang dengan baik.

Rendahnya produktivitas dan mutu minyak antara lain disebabkan rendahnya mutu genetik tanaman, teknologi budidaya yang masih sederhana, berkembangnya berbagai penyakit, serta teknik panen dan pasca panen yang kurang tepat.

Penyakit yang dapat menimbulkan kerugian besar pada tanaman nilam adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum (Nasrun et al., 2004), penyakit budog yang disebabkan oleh virus dan penyakit yang disebabkan oleh nematoda. Nematoda dapat merusak fungsi akar, merubah proses fisiologi tanaman serta mengurangi efisiensi fotosintesa sehingga pertumbuhan tanaman terhambat.

Penyakit layu bakteri menyebabkan kerugian sebesar 60 % – 95 % pada pertanaman nilam di Sumatera. Dewasa ini penyakit tersebut sudah ditemukan pula di pertanaman nilam di Jawa Barat, Jawa Tengah dan daerah lainnya. Namun serangan hama tersebut tidak sebanyak seperti di daerah Sumatera.

Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu penyulingan dengan cara direbus, dikukus dan uap langsung. Minyak nilam dapat digunakan dalam industri parfum, sabun dan kosmetika serta obat-obatan. Kemajuan industri menyebabkan terjadinya peningkatan permin-taan minyak didalam maupun diluar negeri. Ekspor minyak nilam Indonesia keluar negeri mencapai puncak pada tahun 1993, sebesar 2.835 ton dengan nilai devisa US$ 20.691.000. Besarnya penggunaan minyak nilam dalam industri parfum, kosmetika dan sabun karena minyak nilam dapat berfungsi sebagai zat pengikat (fiksatif) dan tidak dapat digantikan dengan zat sintetis lainnya.

Di Jawa Barat, tanaman nilam telah dikembangkan di beberapa daerah seperti Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Bandung, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, baik oleh swasta maupun melalui dukungan Dinas terkait (misalnya : Dinas Koperasi & UKM dan Dinas Perindag) dengan pertumbuhan yang cukup memuaskan. Oleh karenanya budidaya tanaman nilam ini perlu diupayakan dengan dukungan teknologi pengolahan (destilasi) yang lebih efisien dan berkualitas agar mempunyai daya saing dan lebih efisien dan berkualitas agar mempunyai daya saing dan lebih ekonomis dibandingkan dengan sistem konvensional yang ada. Sejalan dengan hal tersebut Dinas Koperasi & UKM telah menunjuk beberapa pakar terkait untuk meneliti dan mengembangkan potensi komoditas unggulan Jawa Barat, yang salah satunya adalah nilam. Pada kesempatan ini telah dilakukan beberapa observasi dibeberapa sentra komoditas nilam untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai potensi dan pengembangan lebih lanjut mengenai komoditas ini, baik dari sisi budidaya, teknik produksi minyak nilam, pemasaran hingga pengembangan produk samping sebagai salah satu upaya mengatasi dampak dari limbah nilam yang dihasilkan.

Selain itu minyak nilam juga dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Limbah dari hasil penyulingan minyak nilam yang terdiri dari ampas daun dan batang mempunyai potensi dimanfaatkan se-bagai bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar, dan pupuk kompos serta sisa air dari hasil penyulingan setelah dipekatkan dapat diman-faatkan sebagai bahan baku untuk aroma terapi. Dengan adanya diversifikasi pemanfaatan lim-bah pengolahan minyak nilam, diharapkan akan dapat meningkatkan nilai ekonomi usahatani nilam.

Tanaman nilam dikenal sangat rakus terhadap unsur hara terutama N, P, dan K. Untuk mempertahankan tingkat kesuburan lahan, perlu adanya input hara yang berasal dari pupuk buatan maupun pupuk organik. Namun demikian, rendahnya kondisi sosial ekonomi petani nilam, khususnya petani tradisional di luar Jawa menyebabkan tanaman nilam tidak diberi pupuk buatan yang memadai dan hanya mengandalkan dari tingkat kesuburan lahan bukaan baru bekas hutan.

Selain rendahnya produktivitas lahan dan adanya serangan penyakit, dugaan adanya senyawa alelopati yang bersifat toksik di dalam tanah yang ditimbulkan pertanaman nilam sebelumnya menyebabkan rendahnya produksi tanaman nilam (Dhalimi et al, 1998; Djazuli, 2002).

Limbah hasil penyulingan daun masih mempunyai kadar hara yang tinggi dan berpotensi sebagai bahan baku pupuk organik yang baik. Teknologi pengomposan yang cepat dan efisien akan menghasilkan pupuk organik kompos yang bermutu tinggi. Selain itu, senyawa alelopati di dalam terna tersebut diharapkan akan berkurang dan hilang selama masa prosesing pengomposan.

Selain sebagai sumber bahan pupuk organik, limbah nilam berpotensi sebagai mulsa. Secara umum pemulsaan dapat memperbaiki kondisi lingkungan tumbuh terutama dalam menurunkan suhu tanah yang tinggi dan sebagai sumber hara. Namun demikian seberapa jauh dampak limbah hasil penyulingan yang langsung diberikan ke tanaman nilam sebagai mulsa perlu penelitian yang lebih seksama.

Tingginya hara yang terangkut bersama hasil panenan, menyebabkan sangat diperlukannya upaya pemupukan yang berkesinambungan baik pupuk buatan maupun organik, terutama untuk mempertahankan tingkat kesuburan lahan dan produktivitas tanaman nilam.

VARIETAS UNGGUL NILAM

Tanaman nilam adalah tanaman penghasil minyak atsiri, oleh sebab itu produksi, kadar dan mutu minyak merupakan faktor penting yang dapat dipergunakan untuk menentukan keunggulan suatu varietas. Disamping itu, karakter lainnya seperti sifat ketahanan terhadap penyakit juga merupakan salah satu indikator penentu. Banyak faktor yang mempengaruhi kadar dan mutu minyak nilam, antara lain : genetik (jenis), budidaya, lingkungan, penangan panen dan pasca panen.

PEMUPUKAN ANORGANIK DAN ORGANIK

Tanaman nilam sangat responsif terhadap pemupukan. Pupuk yang diperlukan selain untuk meningkatkan produksi terna dan mutu minyak nilam, juga untuk mempertahankan atau mengembalikan kesuburan tanah, akibat besarnya unsur hara yang terangkut saat panen. Besarnya unsur hara yang terangkut bersama panenan tiap hektar pada produksi 12,86 t daun segar atau setara dengan 3,1 t daun kering dari pertanaman nilam pada tanah Latosol merah kecoklatan yang tidak dipupuk adalah: 179,8 kg N, 151,9 kg P2O5, 706,8 kg K2O, 164,3 kg CaO, dan 105,4 kg MgO (Tasma & Wahid, 1988).

Pemupukan pada tanaman nilam selain menggunakan pupuk anorganik yang umum digunakan seperti pupuk Urea (ZA), TSP (SP-36), dan KCl juga menggunakan pupuk organik berupa pupuk kandang/kompos/pupuk hijau. Pupuk organik berfungsi selain sebagai sumber hara, juga dapat memperbaiki kesuburan kimia, fisik, dan biologi tanah (Mile et al., 1991).

Beberapa hasil penelitian pemupukan tanaman nilam menunjukkan bahwa penggunaan dosis pupuk dan produk daun (terna) yang dihasilkan beragam menurut kondisi lingkungannya terutama kesuburan tanahnya. Untuk tanah yang telah dipakai berulang-ulang kandungan haranya banyak terkuras, sehingga diperlukan pemberian pupuk yang cukup. Pemakaian pupuk anorganik khususnya N dan K dianjurkan secara bertahap, 1/2 dosis pada umur1 bulan setelah tanam (BST), dan ½ dosis sisanya, diberikan 2 kali, masingmasing ¼ dosis pada umur 1 minggu setelah panen pertama dan 1 minggu setelah panen kedua.

LIMBAH NILAM

Limbah hasil prosesing minyak nilam banyak dijumpai diindustri penyulingan minyak nilam. Besarnya volume limbah nilam seringkali menjadi masalah bagi fihak industri pengolahan itu sendiri maupun lingkungan.

Pengkomposan limbah nilam dengan cara menggunakan pupuk kandang atau pupuk kandang + kapur + EM4 1% selama 3 minggu menghasilkan kompos limbah nilam dengan status hara dan tingkat dekomposisi yang baik (Djazuli, 2002b). Pemanfaatan limbah hasil penyulingan nilam dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan sebagai pupuk kompos yang potensial.

Selanjutnya dilaporkan pula bahwa pemberian kompos mampu meningkatkan bobot segar terna nilam secara nyata pada tiga taraf pemupukan NPK yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh kandungan hara pada kompos limbah nilam relatif tinggi, sehingga mampu memperbaiki pertumbuhan dan produktivitas tanaman nilam secara nyata.

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENYULINGAN MINYAK NILAM

Minyak nilam dihasilkan dari penyulingan, sebelum proses penyulingan biasanya dilakukan perlakuan pendahuluan terhadap bahan yang akan disuling. Perlakuan tersebut dapat dengan beberapa cara yaitu dengan pengecilan ukuran, pengeringan atau pelayuan dan fermentasi (Ketaren,1985).

Proses tersebut perlu dilakukankarena minyak atsiri di dalam tanaman dikelilingi oleh kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh, kantong minyak ataurambut gladular. Apabila bahan dibiarkanutuh, kecepatan pengeluaran minyak hanya tergantung dari proses difusi yang berlangsung sangat lambat(Guenther, 1948).

Pengecilan ukuran bahan biasanya dilakukan dengan pemotongan atau perajangan. Perlakuan ini bertujuan agar kelenjar minyak dapat terbuka sebanyak mungkin sehingga memudahkan pengeluaran minyak dari bahan dan mengurangi sifat kamba bahan tersebut. Namun demikian bahan berupa bunga seperti melati dan daun seperti kayu putih dapat langsung disuling tanpa pengecilan bahan terlebih dahulu karena sifatnya bahannya lebih mudah pengeluaran minyak dari jaringan (Ketaren, 1985).

Pelayuan dan pengeringan bertujuan untuk menguapkan sebagian air dalam bahan sehingga penyulingan berlangsung lebih mudah dan lebih singkat. Selain itu juga untuk menguraikan zat yang tidak berbau wangi menjadi berbau wangi (Ketaren, 1985). Menurut Tan (1962) penyulingan daun segar tidak dapat dibenarkan karena rendemen minyak terlalu rendah. Hal ini disebabkan karena sel-sel yang mengandung minyak sebagian terdapat dipermukaan dan sebagian lagi dibagian dalam dari daun. Pada penyulingan daun segar hanya minyak yang berasal dari permukaan saja yang dapat keluar.

Dengan pelayuan atau pengeringan, dinding-dinding sel akan terbuka sehingga lebih mudah ditembus uap. Pengeringan biasanya langsung dibawah sinar matahari, walaupun cara pengeringan tidak langsung lebih baik hasilnya. Penelitian Nurdjanah dan Ma’mun (1994) menyatakan bahwa daun nilam yang tanpa dijemur atau dianginkan selama 2 minggu menghasilkan produksi lebih tinggi yaitu 29,7 ml/2 kg bahan sedangkan dengan dijemur selama 4 jam di panas matahari menghasilkan minyak nilam 27,0 ml/2 kg bahan.

Lebih lanjut dikatakan minyak nilam yang dihasilkan dari daun yang mengalami penjemuran mempunyai bilangan ester yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengalami penjemuran. Pengeringan langsung dibawah sinar matahari juga menyebabkan sebagian minyak nilam akan turut menguap, dan pengeringan yang terlalu cepat menyebabkan daun menjadi rapuh dan sulit disuling. Sebaliknya bila penyulingan terlalu lambat daun akan menjadi lembab dan timbul bau yang tidak disenangi akibat adanya kapang, sehingga mutu minyak yang dihasilkan akan menurun.

Pengeringan nilam dilakukan dengan dihamparkan diatas tikar dan dibalik dari waktu ke waktu supaya keringnya merata dan terhindar dari proses fermentasi dan harus dihindari penumpukan bahan dalam keadaan basah. Tergantung dari teriknya matahari dan kelembaban udaranya, pengeringan membutuhkan waktu selama 3 – 5 hari. Tanda pengeringan sudah cukup apabila sudah timbulnya bau nilam yang lebih keras dan khas bila dibandingkan daunsegar (Guenther, 1948).

Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai perlakuan sebelum penyulingan antara lain untuk mendapatkan rendemen yang optimum dan mutu yang baik. Irfan (1989) melaporkan bahwa pengering anginan daun nilam dengan menghamparkannya didalam ruang dengan ketebalan 5 – 8 cm selama 3, 6, 9 dan 12 hari. Penyulingan miyaknya dilakukan dengan menggunakan cara penyulingan rebus dan kukus dalam ketel 21 cm, ternyata dengan pengering anginan menyebabkan terjadinya penurunan angka kadar minyak menjadi 31,41 %, bilangan ester 9,6515 %, serta komponen golongan terpen dalam minyak nilam 59,67 %. Sebaliknya bobot jenis menjadi 0,9629; indeks bias 1,5262 dan komponen berat yang polar dalam minyak nilam meningkat dengan semakin lama pengering anginan. Selanjutnya terlihat bahwa lama kering angin tidak berpengaruh terhadap rendemen, bilangan asam, putaran optik dan kelarutan minyak dalam alkohol.

Penelitian penyimpanan kering selama dua minggu telah dilakukan Nurdjanah dan Ma’mun (1994), daun nilam sebagian dikering anginkan ruang saja dan sebagian lagi dijemur. Ternyata produksi minyak dari daun nilam kering pada 0 minggu ke 1 menaik, kemudian dari minggu 1 sampai minggu ke 2 terjadi penurunan kembali. Untuk itu dianjurkan tidak menyimpan daun nilam kering lebih dari 1 minggu. Setelah penyimpanan 1 minggu terjadi penurunan produksi minyak 21,3 %.

Pengolahan minyak nilam dilakukan dengan proses destilasi. Proses destilasi adalah suatu proses perobahan minyak yang terikat di dalam jaringan parenchym cortex daun, batang dan cabang tanaman nilam menjadi uap kemudian didinginkan sehingga berobah kembali menjadi zat cair yaitu minyak nilam. Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan menggunakan pipa pendingin yang model belalai gajah atau model bak diam.

Pemilihan sistim pipa pendingin ini tergantung di lokasi mana alat akan ditempatkan. Pada daerah-daerah yang airnya sulit atau permukaan air tanahnya rendah, maka model bak diam adalah yang terbaik. Ketel alat suling yang banyak digunakan di tingkat petani adalah dari drum bekas dan pipa pendinginnya dari besi yang dimasukkan kedalam bak atau saluran air. Hal ini menyebabkan mutunya menjadi rendah karena minyak yang dihasilkan berwarna gelap dan mengandung zat besi. Pada temperatur yang tinggi, besi dari drum berada dalam bentuk ion akan terikut dengan uap dan terakumulasi dalam minyak.

Minyak nilam yang dihasilkan disimpan dalam wujud cairan, dikemas dalam drum bersih, kering, keadaan baik, berat netto 200 kg dengan head space sebesar 5 – 10% dari isi drum. Drum penyimpanan minyak nilam harus terbuat dari alumunium atau plat timah putih atau plat besi yang berlapis timah putih, plat besi yang galvanis atau yang didalamnya dilapisi dengan lapisan yang tahan minyak nilam. Untuk tujuan ekspor, pada bagian luar drum harus diberi keterangan dengan cat yang tidak mudah luntur, yaitu nama barang, negara asal produk, nama perusahaan, berat netto, berat bruto, negara tujuan dan keterangan yang diperlukan.

Perkembangan teknologi pengolahan minyak nilam di negara-negara maju sudah demikian pesatnya, namun Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan tersebut. Pemacuan industri minyak nilam sangat diperlukan. Disain peralatan yang memenuhi standar yang lebih baik akan meningkatkan rendemen dan kualitas produk, meskipun harga peralatan relatif lebih mahal, akan tetapi untuk jangka panjang akan lebih murah dan menguntungkan (Harfizal, 2002).

Salah satu kendala yang dialami adalah masih terbatasnya sasaran ekspor minyak nilam karena importir yang membeli minyak nilam Indonesia masih minim. Sejak munculnya kompetitor baru seperti Philipina dan China, daya saing minyak nilam di pasaran internasional menjadi lebih ketat. Padahal saat ini banyak sekali produk hilir minyak nilam yang muncul baik sebagai bahan kosmetika, aroma terapi, parfum dan obat-obatan. Selama dua dekade sejak tahun enam puluhan, sebagian besar produk minyak nilam diarahkan sebagai zat pengikat (fiksatif) pada industri parfum. Komponen utama dalam minyak nilam yang dipakai sebagai zat pengikat tersebut hanya ”pachouli alkohol”.

Berdasarkan kenyataan ini, sudah saatnya Indonesia tidak lagi melakukan ekspor minyak nilam mentah, tetapi harus dilakukan peningkatan nilai tambah dari produk minyak nilam tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyiapkan teknologi pengolahan minyak nilam ditingkat ekportir, sehingga produk yang diekspor kepasaran internasional adalah berupa komponen-komponen minor lainnya yang sesuai dengan perkembangan industri saat ini.

Minyak nilam adalah minyak atsiri yang diperoleh dari daun, batang dan cabang nilam dengan cara penyulingan. Minyak yang dihasilkan terdiri dari komponen bertitik didih tinggi seperti patchouli alkohol, patchoulen, kariofilen dan non patchoulenol yang berfungsi sebagai zat pengikat (fiksatif) (Ketaren, 1985). Jenis minyak nilam bersifat fiksatif, oleh karena itu minyak nilam banyak digunakan oleh industri parfum, sabun dan kosmetika atau obat-obatan bahkan juga sebagai pestisida.

Industri parfum

Perkembangan industri parfum dalam negeri terus berkembang sehingga permintaan akan minyak nilam cukup besar, dan ini akan terus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi khususnya dalam bidang gaya hidup (style).

Minyak nilam adalah minyak atsiri yang tergolong pada kelompok aroma akhir (end note) dimana aromanya dapat bertahan lama, dan minyak nilam sendiri sebenarnya telah dapat disebut sebagai parfum (Guenther, 1948).

Menurut Ketaren (1985) minyak nilam dapat berfungsi sebagai zat pengikat yang baik jadi sangat penting sebagai bahan pembuatan parfum. Zat pengikat adalah suatu senyawa yang mempunyai daya menguap lebih rendah atau titik uapnya lebih tinggi dari zat pewangi,n sehingga kecepatan penguapan zat pewangi dapat dikurangi atau dihambat. Penambahan zat pengikat ini didalam parfum bertujuan untuk mengikat bau wangi dengan mencegah laju penguapan zat pewangi yang terlalu cepat, sehingga bau wangi tidak cepat hilang. Komposisi minyak nilam yang digunakan dalam suatu parfum dapat mencapai 50%.

Dalam industri parfum, minyak nilam tidak dapat digantikan oleh zat sintetik lainnya karena sangat berperan dalam menetukan kekuatan, sifat dan ketahanan wangi. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang dapat mengikat bau wangi dari bahan pewangi lain dan sekaligus dapat membentuk bau yang harmonis dalam suatu campuran parfum (Guenther, 1948).

Industri sabun dan kosmetik

Industri sabun dan kosmetik dalam negeri juga berkembang dengan baik sehingga kebutuhan akan minyak nilam sebagai bahan baku industri terus meningkat. Fungsi minyak nilam dalam industri sabun dan kosmetik tidak berbeda dengan pada industri parfum yaitu sebagai zat pengikat agar wewangian tidak cepat hilang pada saat pemakaian. Banyaknya industri sabun dan kosmetik menggunakan minyak nilam sebagai pengikat karena sampai saat ini minyak nilam masih yang terbaik sebagai pengikat bahan. Disamping itu juga dapat bermanfaat sebagai antiseptik untuk mengobati gatal-gatal pada kulit.

Pestisida

Daun Tanaman nilam dapat digunakan sebagai bahan baku pestisida, Menurut Dummond (1960) daun nilam digunakan sebagai insektisida terutama

untuk mengusir ngengat kain (Thysanura) karena didalam mengandung zat yang tidak disukai oleh serangga tersebut, karena terdapat dalam komponen minyak nilam seperti á pinen dan â pinen. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa minyak nilam dapat digunakan sebagai pengendali populasi serangga karena sifatnya sebagai bahan penolak dan penghambat pertumbuhan serangga. Sebagai pengendali hama, minyak nilam mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai salah satu bahan baku insektisida nabati. Menurut Mardiningsih, dkk (1998) ada beberapa keuntungan menggunakan insektisida nabati antara lain tidak mencemari lingkungan, lebih bersifat spesifik dan hama tidak mudah menjadi resisten.

Mardiningsih, dkk (1998) melaporkan bahwa minyak nilam dapat digunakan untuk mengendalikan hama, baik hama gudang maupun hama tanaman. Minyak nilam mampu mematikan populasi Stegobium paniceum, yang merupakan hama ketumbar selama penyimpanan. Dengan mengoleskan sedikit minyak nilam disekitar dinding tempat penyimpanan, populasi Stegobium paniceum dapat berkurang sebesar 25 – 42 % setelah penyimpanan 9 hari.

Menurut Grainge dan Ahmed (1987) bagian akar, batang dan daun tanaman nilam dapat membunuh ulat Crocidolomia binotalis dan Spodotera litura yang merupakan hama penting pada tanaman, sedangkan daun dan pucuk nilam dapat membasmi semut (Formicida) dan kecoa (Blattidae) didalam rumah. Dari hasil penelitian Mardiningsih, dkk (1994) minyak nilam bersifat menolak beberapa jenis serangga seperti ngengat kain (Thysanura lepismatidae), Sitophilus zeamais (kumbang jagung), dan Carpophilus sp. (kumbang buah kering). Menurut Grainge dan Ahmed (1987) minyak nilam juga bersifat menolak Aphid (kutu daun), nyamuk dan Pseudaletia unipuncta.

Pemanfaatan lainnya

Selain sebagai pengikat wangi pada parfum, kosmetika dan sabun serta sebagai pestisida ternyata minyak nilam berkhasiat sebagai antibiotik dan anti radang karena dapat menghambat pertumbuahan jamur dan mikroba. Dapat digunakan untuk deodoran, obat batuk, asma, sakit kepala, sakit perut, bisul dan herpes. Minyak nilam merupakan minyak eksotik yang dapat meningkatkan gairah dan semangat serta mepunyai sifat meningkatkan sensualitas. Biasanya digunakan untuk mengharumkan kamar tidur untuk memberi efek menenangkan dan membuat tidur lebih nyenyak (anti insomia). Dalam hal psikoemosional, minyak nilam termasuk dalam aroma terapi yang belakangan ini semakin populer sebagai salah satu aspek pengobatan alternatif, karena minyak nilam mempunyai efek sedatif (menenangkan) dapat digunakan untuk menanggulangi gangguan depresi, gelisah, tegang karena kelelahan, stres, kebingungan, lesu dan tidak bergairah serta meredakan kemarahan.

Dupa

Sisa dari hasil penyulingan minyak nilam masih dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuat dupa, karena mempunyai aroma yang khas/harum. Ampas tersebut dijemur kemudian digiling dan siap digunakan sebagai bahan baku pembuat dupa berbentuk lidi (joss stick). Dalam pemrosesannya bubuk halus ampas dicampur dengan bahan perekat (gum Arabic, dan dentrose), tepung onggok, tepung tempurung, pewarna dan pewangi lainnya. Semua bahan tersebut dicampur dibuat adonan dan selanjutnya dicetak berbentuk lidi.

Obat nyamuk bakar

Seperti diketahui bahwa minyak nilam selain mempunyai aroma yang khas juga bersifat menolak serangga. Dewasa ini industri obat nyamuk bakar berkembang pesat di Indonesia dan pemakaiannya mencapai seluruh pelosok ditanah air. Komponen yang terkandung dalam formula obat nyamuk bakar antara lain adalah bahan pengisi (organic filler) dan bahan pewangi. Bahan pengisi yang biasa digunakan untuk obat nyamuk bakar antara lain serbuk tempurung kelapa atau ampas tebu. Sedangkan pewangi yang biasa digunakan misalnya kenanga dan bunga melati. Dengan menggunakan ampas dari penyulingan minyak nilam sebagai organic filler, maka obat nyamuk bakar akan beraroma harum ketika digunakan. Sebagai bahan pengisi, ampas nilam selain berbau harum juga bersifat menolak nyamuk ketika obat nyamuk tersebut dibakar.

Penggunaan lainnya

Limbah nilam yang berupa daundaunan dan batang dapat digunakan sebagai pupuk kompos atau mulsa. Ampas nilam yang digunakan sebagai pupuk pada tanaman lada mampu meningkatkan produksi lada. Hal ini disebabkan karena didalam limbah nilam masih terdapat bahan aktif yang dapat bersifat menolak (repellent) serangga Lophobaris piperis yang merupakan salah satu hama tanaman lada (Mardiningsih, dkk, 1998).

Penggunaan limbah nilam sebagai pupuk kompos dapat menghemat pemakaian pupuk Nitrogen sebesar 10 % dan disamping itu juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Di Bengkulu limbah nilam disamping digunakan sebagai pupuk di sawah, juga berfungsi sebagai penolak hama wereng. Kompos limbah sisa hasil prosesing minyak nilam mempunyai kandungan hara yang cukup tinggi dan potensial bagi sumber pupuk organik alternatif yang bermutuh tinggi (Djazuli, 2002).

Ampas nilam juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk proses penyulingan, sehingga bisa menghemat bahan bakar. Abu sisa dari pembakaran dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Sedangkan sisa air bekas penyulingan nilam menghasilkan aroma cukup wangi, ini dapat dipekatkan sehingga digunakan untuk aroma terapi. Perlakuan aromaterapi dengan menggunakan sisa air bekas penyulingan telah banyak digunakan untuk menenangkan jiwa.

OBSERVASI LAPANGAN DI TASIKMALAYA

Berdasarkan pengamatan lapangan diperoleh gambaran sebagai

berikut :

1. Lokasi penanaman tersebar di banyak lokasi dengan keragaman karakteristik

lahan, tanah dan tanaman yang signifikan secara visual. Hal ini terlihat dari

tidak seragamnya produktivitas tanaman yang dihasilkan. Beberapa gambaran

visual lokasi pengamatan teknis budidaya tanaman nilam

2. Cara pemanenan belum mengikuti kaidah atau prasyarat bagi tercapainya mutu

minyak nilam yang baik. Hal ini terlihat dari gambar di atas, dimana cara

pemanenan dan pengeringan tidak terkontrol dengan baik

3. Kesesuaian lahan nampaknya belum diuji secara laboratorium dan hal ini

terlihat dari belum seragamnya hasil mutu minyak setelah dianalisis di

laboratorium. Oleh karena itu pengujian tanah dan penentuan kesesuaian lahan

baik dari sisi topografi dan zona klimatisasinya perlu dilakukan untuk masa

yang akan datang.

Pengamatan Visual dan Kinerja Unit Destilasi

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, baik di bengkel yang mengerjakan rancang bangun unit destilasi minyak nilam, maupun di lapangan tempat uji coba mesin dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  • Sistem pemanasan destilasi tidak seragam (tidak merata) sehingga hal ini berdampak pada mutu minyak yang dihasilkan tidak seragam disamping itu dengan sistem destilasi seperti yang dirancang sekarang ini akan mengkonsumsi energi yang berlebih dengan sistem perpindahan panas yang tidak merata karena panas didistribusikan secara serial. Untuk perbaikan di masa yang akan datang perlu dimodifikasi sistem penyebaran panas secara konsentrik radial, sehingga pemanasan akan lebih merata.
  • Cara penampungan minyak seharusnya diperbaiki dengan tidak menggunakan bahan penampung dan penyimpanan dari bahan plastik. Bahan yang baik setidaknya adalah bahan kaca berwarna gelap agar tidak mengubah komposisi kimia minyak nilam yang dihasilkan.
  • Cara pembuangan uap harus diupayakan agar beberapa bagian uap yang masih mengandung minyak tidak terbuang percuma ke luar sistem destilasi, dengan demikian harus dimodifikasi sistem pengeluaran uap yang berbentuk sistem “looping” (arus balik).
  • Bahan pipa-pipa penyalur dan konstruksi lainnya harus seragam dan terbuat dari bahan “stainless steel” agar tidak berpengaruh terhadap kualitas minyak.
  • Penyimpanan daun kering dan cara pengeringan daun dari sejak dipotong dari kebun harus diupayakan seoptimal mungkin untuk menghindari terjadi fermentasi dan susut rendemen minyak dalam daun, mengingat sistem destilasi yang digunakan pada disain yang ada saat ini adalah sistem penyulingan cara kering (menggunakan daun kering).

· Sistem pendinginan untuk kondensasi uap – minyak perlu disempurnakan sehingga aliran air yang masuk ke pendingin dapat berfungsi secara maksimal dan merata dengan demikian hasil dan mutu minyak yang diperoleh dapat lebih baik.

HASIL ANALISIS LABORATORIUM UNTUK HASIL MINYAK NILAM

Dari hasil pengujian sample daun dan minyak nilam di laboratorium kimia Universitas Padjadjaran, dapat disampaikan beberapa kesimpulan teknis, baik yang menyangkut aspek tanaman yang telah dibudidayakan, maupun minyak hasil destilasi dengan menggunakan mesin yang telah dipasang di daerah sentra produksi Pager Ageung, Kabupaten Tasikmalaya (hasil uji pada lampiran).

Tanaman Nilam yang digunakan sebagai sumber minyak nilam dalam hal ini tidak dapat diketahui dengan pasti varietasnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  • Pada saat pengambilan sample diketahui bahwa terdapat 5 jenis tanaman dengan varietas yang berbeda (tanpa nama species yang pasti) yang ditanam pada satu lokasi penanaman.
  • Taman tersebut memiliki nama daerah yang sama, yaitu : Nilam Aceh, tapi asal yang berbeda, yaitu ; Cisaroni, Bengkulu 1, Sidikalang, Bengkulu 2 dan Lokal.
  • Akibat dari faktor-faktor diatas, daun yang sekarang dihasilkan tidak tertutup kemungkinan telah mengalami perubahan dalam arti terjadi persilangan yang menghasilkan varietas baru yang tidak diketahui dengan pasti kualitasnya.

· Dari hal-hal tersebut diatas dapat dilihat satu bukti yang nyata yaitu rendahnya kadar Patchouli alcohol (20,28 %) yang mana hal ini menunjukkan bahwa proses biokimia pembentukan senyawa tersebut tidak berlangsung dengan baik. Hal ini juga mengindikasikan bahwa telah terjadi ketidakcocokan sistem budidaya antara faktor genetik (spesies tanaman) dan faktor pendukung lingkungan ( unsur hara, iklim, dll).

Disamping hal tersebut di atas juga belum dapat diketahui bagaimana sebenarnya cara budidaya tanaman nilam tersebut dilakukan di lapangan, apakah mengikuti kaidah budidaya, pola tanam, syarat tumbuh dan kesesuaian lahannya (baik dari sisi iklim, tanah, topografi, dan faktor lainnya). Untuk itu perlu kiranya dilakukan kegiatan pengamatan lebih lanjut dan penyuluhan intensif kepada petani agar aspek budidaya tanaman dan pemilihan varietas nilam dapat dilakukan dengan baik, agar dihasilkan minyak dengan kadar yang baik pula.

Minyak Nilam yang dihasilkan, baik yang diperoleh dari uji daun maupun dari uji sample minyak yang diperoleh dari destilator yang ada di pager Ageung, hampir seluruhnya tidak memenuhi dengan lengkap standar spesifikasi perdagangan (SNI: 06-2385-1991). Hal ini diperkirakan sebagai akibat dari :

  1. Daun tanaman tidak memenuhi standar kualitas, yang kemungkinan diakibatkan oleh :
  • Varietas tanaman tidak unggul atau telah terjadi penyerbukan silang diantara varietas tanaman yang belum diketahui spesifikasi asalnya dengan jelas.
  • Daya dukung ekologi/lahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman
  • Proses pemeliharaan budidaya
  • Kesalahanan proses produksi pasca panen, yang salah satunya faktornya adalah dekomposisis kandungan minyak atsiri pada proses pengeringan.
  1. Mekanisme proses destilasi yang terjadi dalam mesin / alat destilasi belum bekerja secara sempurna, akibat laju pemanasan tidak seragam dan proses penguapan yang kurang sempurna. Proses Penyulingan yang kurang sempurna ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
  • Kualitas alat (bahan logam) dari sistem penyulingan yang digunakan kurang baik, sehingga masih terdapat kandungan logam-logam yang dapat terlarut dan bereaksi dengan minyak nilam selama proses penyulingan.
  • Kebersihan seluruh sistem peralatan yang digunakan, sehingga terdapat kemungkinan masuknya kotoran yang bukan dari minyak atsiri ke dalam minyak hasil penyulingan. Bukti yang paling jelas adalah pada minyak atsiri yang dihasilkan terdapat sisa-sisa proses karbonisasi (berupa baum minyak terbakar).
  • Tempat penyimpanan / tempat penampungan minyak tidak sesuai dengan standar (sebaiknya bahan kaca gelap / tidak tembus cahaya).

Solusi Dan Saran Perbaikan

Berdasarkan hasil kajian data data diatas dapat disimpulkan :

  1. Perlu dilakukan analisis total terhadap parameter sistem agribisnis yang ada, yang terdiri dari :
    • Analisis daya dukung lingkungan (seperti kesesuaian unsur hara, pH, iklim, topografi, dll)
    • Analisis tanaman (kepastian varietasnya)
    • Analisis sistem penyulingan ( kadar logam terlarut, tempat penampungan minyak, termodinamika penyulingan, sistem perpindahan panas, dll)

2. Dari ketiga faktor diatas, salah satu cara yang paling cepat untuk dilakukan adalah penggunaan bibit nilam (secara in – situ) dengan varietas yang jelas dan kualitas yang baik pada kebun percontohan untuk digunakan sebagai pembanding kualitas. Untuk mendapatkan bahan tanaman yang baik dapat dilakukan melalui pengambilan varietas tanaman langsung dari sumber asal, diuji coba tanamkan di lokasi percontohan dan pengamatan pertumbuhan secara intensif. Dengan demikian diharapkan akan terjadi varietas tanaman yang mampu beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya yang baru dengan kualitas dan kuantitas minyak yang baik. Untuk mendapatkan mutu minyak hasil destilasi perlu dilakukan penyetelan ulang mesin dan bila memungkinkan dilakukan modifikasi sistem penyulingan sehingga diperoleh cara pemanasan daun (sistem penguapan), yang seragam dengan derajat pemanasan yang terkendali. Sistem pemanasan juga dapat dilakukan dengan cara penguapan pada daun basah dan pada daun kering. Namun untuk itu diperlukan studi lebih lanjut.

OBSERVASI LAPANGAN DI KABUPATEN GARUT

Aspek Budidaya

Sentra nilam di Kabupaten Garut pada saat ini baru dalam tahap awal pengembangan, yaitu di sekitar daerah Pakenjeng, Malangbong dan Cilawu. Fokus utama pada daerah tersebut adalah pengembangan bibit dan budidaya varietas unggul agar sesuai untuk kondisi setempat. Salah seorang yang merupakan pionir dalam pengembangan tanaman nilam khususnya dalam hal pembibitan adalah Pa Djadja (staf Dinas Perkebunan & Kehutanan Kabupaten Garut). Beliau saat ini secara rutin telah dapat mengembangkan bibitbibit yang baik dan telah disebar pada beberapa lokasi budidaya di kabupaten Garut.

Pembibitan yang dikelola oleh Pa Djadja saat ini dapat memenuhi kebutuhan bagi kelompok tani dengan rata-rata produksi bibit per periode tanaman sekitar 1 – 2 bulan antara 20.000 hingga

30.000 bibit.

UNIT DESTILASI

Untuk sentra nilam di kabupaten Garut saat ini belum menggunakan unit destilasi yang modern. Kebanyakan kelompok tani masih menggunakan peralatan yang sederhana dengan menggunakan drum dan sumber pemanas dari kayu bakar. Sehingga minyak yang dihasilkan masih di bawah standar yang ditentukan. Saat ini beberapa kelompok tani tengah mengupayakan membangun unit destilasi modern dengan bahan stainless dan sumber pemanas kompor / burner yang lebih baik.

OBSERVASI LAPANGAN DI KABUPATEN MAJALENGKA

Aspek Budidaya

Areal budidaya tanaman nilam untuk kabupaten Majalengka saat ini terpusat di dusun Calingcing kecamatan Argapura. Luas areal budidaya yang ada saat ini sekitar 70 hektar tersebar di beberapa dusun dengan pola penanaman tumpang sari dengan tanaman tahunan di kaki gunung yang ada di sekitarnya. Dari hasil observasi lapangan dapat diketahui bahwa varietas tanaman yang dibudidayakan oleh petani sudah seragam (varietas Sidikalang) dimana proses awal budidaya dilakukan dengan menguji coba kesesuaian varietas tanaman tersebut bekerjasama dengan Balitro.

PENGAMATAN VISUAL DAN KINERJA UNIT DESTILASI

Pada awalnya unit destilasi yang ada di lokasi pabrik menggunakan cara destilasi daun basah, akan tetapi pada uji coba awal ada kelemahan pada sistem pemanasan sehingga pada akhirnya unit destilasi dimodifikasi kembali untuk penanganan bahan baku daun kering. Elemen pemanas yang digunakan saat ini adalah batu bara atau minyak tanah (dengan menggunakan kompor pemanas khusus

Hasil uji coba pada unit destilasi yang ada menunjukkan tingkat persentase pachouli alkohol (PA) yang dihasilkan telah memenuhi syarat minimal standar produksi nilam dimana PA yang diperoleh sekitar 34% (standar yang syaratkan harus lebih besar dari 30%). Rendemen minyak hasil destilasi dengan unit destilasi yang ada saat ini baru mencapai 2,6% dari berat kering daun yang diproses. Kinerja yang ada saat ini masih dapat ditingkatkan antara lain dengan memperbaiki sistem pemanasan dan cara pemotongan daun dan ranting yang akan didestilasi.

OBSERVASI LAPANGAN DI KABUPATEN BANDUNG

Pengamatan dilakukan pada salah satu pengusaha agribisnis yang tertarik untuk mengembangkan tanaman nilam, yaitu di desa Arjasari kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung. Perusahaan yang dikelola oleh swasta ini baru sebatas uji coba unit destilasi sedangkan kebun untuk budidaya tanaman nilam belum memadai dan masih dalam tahap penyiapan. Untuk saat ini pemenuhan bahan baku penyulingan daun nilam diperoleh dari berbagai daerah, antara lain : Garut dan Tasikmalaya.

REKOMENDASI UMUM

Berdasarkan hasil pengamatan keseluruhan di beberapa lokasi observasi dapat direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan mulai dari jenis tanah, kesuburan tanah, topografi, ketinggian tempat dan zona klimatisasinya agar diperoleh pertumbuhan tanaman nilam yang paling baik.
  2. Perlunya perbaikan budidaya tanaman nilam yang lebih baik untuk mendapatkan mutu minyak yang seragam. Setidaknya ada beberapa hal yang menyangkut budidaya tanaman yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut :
    • Nilam dapat tumbuh baik pada tanah regosol, latosol dan aluvial. Bertekstur lempung berpasir atau lempung bedebu dengan pH tanah antara 6 – 7. dan tidak boleh tergenang air. Tanaman nilam dapat tumbuh dari mulai dataran rendah sampai ketinggian di atas 1000 m dpl, tapi akan tumbuh optimum pada ketinggian 100 m s/d 400 m dpl, suhu yang paling cocok untuk tanaman nilam adalah

Comments

8 Comments on Pemanfaatan Limbah Nilam

  1. Fikar on Mon, 19th Jan 2009 19:45
  2. hatur nuhun kang boy…….. saya ingin sekali budidaya nilam,dan ini sangat membantu sekali,, mohon masukannya..nuhun pisan

  3. Boy Macklin on Mon, 19th Jan 2009 22:00
  4. sami2 kang… mugi-mugi mangfaat…

  5. ridwan on Tue, 10th Mar 2009 11:16
  6. punten kang boy…!!
    dupi alamat pemasaran nilam na terang, atanapi no. telp na we..? Htrnuhun

  7. ridwan on Tue, 10th Mar 2009 11:18
  8. punten kang boy…!!
    dupi alamat pemasaran minyak nilam na terang, atanapi no. telp na we..? Htrnuhun

  9. JEGEG on Mon, 15th Jun 2009 10:09
  10. saya mau tanya di daerah bali adakah …?kalau ada saya mau minta alamatnya…?

  11. Rizal Alam Rivai on Mon, 21st Sep 2009 17:43
  12. Salam kenal mas Boy.
    Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas artikel yg telah mas buat. Saya mempunyai tanah seluas 5 hectare di Gorontalo, dan berencana utk membuatnya menjadi industri nilam. Dari artikel ini, maka lengkaplah data2 saya tentang mekanisme bercocok tanam, proses penyulingan/teknik fermentasi Nilam.

  13. rokhmy on Sat, 17th Oct 2009 10:49
  14. pengen banyak belajar di nilam

  15. Nurul on Mon, 28th Nov 2011 13:19
  16. makasih infonya, sy pngin konsult lbh banyk lagi ttg tan nilam

Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!