Materi 3 – Psikologi Industri, Pemahaman Perilaku Individu
Sub Pembahasan materi kuliah 3 ini:
- Kepribadian
- Prinsip-prinsip Hukum Tingkah laku Manusia
- Motivasi.
- Motivasi dan HAsil Kerja.
KEPRIBADIAN
Ada beberapa definisi Kepribadian berdasarkan beberapa pakar:
Gordon Willard Allport (1897-1967)
GW. Allport; Kondisi psikofisik yang dinamis dalam individu, yang menentukan tingkah laku yang khas.
Raymond Bernard Cattell (20 March 1905–2 February 1998), mendefinisikan kepribadian – Apa yang akan dilakukan seseorang dalam situasi tertentu.
David Abraham Adler (born April 10, 1947), kepribadian adalah cara khas individu dalam merespon masalah hidup.
J.P. Chaplin, kepribadian adalah Integrasi sifat-sifat tertentu untuk menyatakan kualitas yang unik dari individu.
- Pada pekerjaan-pekerjaan tertentu sifat-sifat kepribadian sesorang sangat berhubungan dengankesuksesan dalam bekerja.
- Pengukuran kepribadian dalam bimbingan jabatan karyawan berguna bagi maksud-maksud sebagai berikut;
- Bagi mereka yang penyesuaian kepribadiannya tidak baik, mungkin akan mengalami kesukaran penyesuaian diri dalam training ataupun dalam situasi kerja.
- Bagi mereka yang mepunyai sifat-sifat kepribadian tertentu yang mengganggu penyesuaian diri dengan posisi kerja bisa dilakukan usaha-usaha yaitu penempatan yang sesuai dengan kepribadiannya, diberi psikoterapi untuk penyesuaiannya.
Prinsip-prinsip Hukum Tingkah laku Manusia
Prinsip Hukum Tingkah laku Individu,
- Tinggkah laku manusia timbul karena adanya stimulus.
- Tidak ada tingkah laku yang terjadi tanpa stimulus.
- Stimulus merupakan sebab terjadinya tingkah laku.
- Makin besar stimulus makin besar kemampuannya untuk menggerakkan tingkah laku.
Stimulus diartikan sebagai rangsangan dari luar. Pada kamus bahasa indonesia stimulus diartikan “Perangsang organisme bagia tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif”
Pendapat lain tentang Tingkah laku manusia:
- Apa yang dapat dicapai dan yang tak dapat dicapai oleh suatu perbuatan membentuk suatu pengalaman.
- Pengalaman yang pahit dari kegagalan mempunyai kecenderungan untuk dihindari, sedangkan pengalaman menyenangkan cenderung untuk dipertahankan.
- Kegagalan dan sukses akan membentuk pola perbuatan yang dijadikan dasar untukdipertahankanbagiperbuatan berikutnya.
Pendekatan yang dapat dilakukan dalam usaha mengubah tingkh laku manusia;
- Pendekatan secara mentalistik, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara mengubah mentalnya, misalnya kita merubah tingkah laku seseorang yang menyimpang dengan cara ramah tamah atau secara tidak langsung.
Cara ini tidak terlalu mudah pada pelaksanaannya. Ada sebuah contoh yang sering terjadi pada keluarga di Indonesia, mengenai prilaku orang tua terhadap anak bungsu atau anak terbesar. Sering terjadi bahwa orang tua di Indonesia memiliki sifat cenderung melindungi anak terbesar atau bungsu. prilaku seperti ini membawa dampak yang besar pada si “anak” jika sudah dewasa kelak. Terkadang prilaku ana pada posisi seperti ini cenderung egois atau tidak mau terkalahkan. Yang jadi pertanyaan “apakah sifat ini baik?” baik jika pada kondisi tertentu. Tetapi akan mengalami sebuah ganjalan jika anak tersebut masuk dalam sebuah tim kerja, terutama pada tim di sebuah lintasan produksi.
Mental ini yang harus di rubah jika memang egois menjadi sebuah ganjalan pada proses produksi, ketidak cocokan personil dalam sebuah tim proses produksi akan memperlambat proses kerja terutama jika proses tersebut memiliki waktu baku yang harus tepat sesuai jadwal produksi. - Pendekatan secara empiris (kondisional), yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara merubah stimulusnya (misal: alat perlengkapan kerja, teman sejawat, mesin-mesin, dan sebagainya).
Dalam sebuah proses manufaktur terutama yang berkaitan dengan perancangan sistem kerja, tools dalam sebuah stasiun kerja sebaiknya disesuaikan dengan operator yang menggunakan. Ada sebuah contoh yang sering terjadi di beberapa pabrik Indonesia. Kendala teknologi, memaksa agar industri Indonesia harus menimpor peralatan dari luar negeri yang kondisi mesinnya tidak sesuai dengan kontur manusia Indonesia. Hal ini akan berdampak terciptanya prilaku yang cepat frustasi, lelah, dan enggan untuk bekerja. Prilaku ini tentunya akan berpengaruh terhadap waktu kerja dan output yang dihasilkan. Jika prilaku ini tidak cepat teratasi maka laju turnover pada divisi yang ada di dalamnya akan tinggi. Solusinya bagaimana, rubah sistem kerja sesuai dengan konsisi operator, dalam materi ergonomi – perancangan sistem kerja ada keksuaian alat dan operator (sistem manusia dan mesin).
Bahan analisis:
Bagaimana KEPRIBADIAN dan Tingkah laku Manusia memiliki kertekaitan dengan Hawthorne effect.
Comments
14 Comments on Materi 3 – Psikologi Industri, Pemahaman Perilaku Individu
-
Arief Maulana on
Sat, 27th Sep 2008 08:16
-
Darmawan Hadiputra on
Wed, 8th Oct 2008 20:17
-
bilal muslim (0506016) on
Thu, 9th Oct 2008 20:17
-
Ammi Fitria Dewi on
Tue, 14th Oct 2008 09:24
-
Dian Bellina on
Tue, 14th Oct 2008 22:53
-
ina on
Wed, 15th Oct 2008 15:44
-
Sanita on
Wed, 15th Oct 2008 16:19
-
santy puspasary on
Wed, 15th Oct 2008 19:20
-
Leonardus Arisandy T on
Wed, 15th Oct 2008 21:38
-
Brando Fridiens on
Wed, 15th Oct 2008 22:23
-
Taufik Rachman on
Wed, 15th Oct 2008 23:45
-
Sosok Seorang Pemimpin : ONLINE BUKU on
Fri, 9th Jan 2009 00:04
-
psycho on
Sun, 13th Sep 2009 13:42
-
foredi gel purwokerto on
Thu, 15th Sep 2011 08:19
Bermanfaat nih mas. Bisa jadi tambahan materi training saya.
Kepribadian adalah hal yang unik dan yang menentukan tingkah laku khas yang dilakukan oleh manusia. Di dalam masalah kepribadian ada beberapa pakar yang membahas kepribadian sebagai berikut ini:
Gordon Willard Allport
Sumbangsih beliau dalam psikologi secara umum ada 3 aspek yaitu methodological, theoretical, dan pedagogical. Pandangan beliau tersebut akhirnya mendukung perkembangan dari pandangan secara narrative.
Raymond Bernard Cattell
Beliau dikenal dengan eksplorasinya di dalam berbagai area subtantif di dalam psikologi seperti dasar dari kepribadian dan temperamen, berbagai kemampuan kognitif, berbagai dimensi klinis dari kepribadian dan lain-lain. Sebagai seorang psikologis, Cattel dikenal sebagai pendukung teori factor analytical methods. Salah satu hasil yang penemuan Cattel yang terkenal di dalam mengaplikasikan factor analysis adalah penemuannya tentang 16 faktor yang dikenal sebagai 16PF.
Di dalam kesuksesan seseorang, kepribadian menjadi modal yang penting di dalam mencapai kesuksesan tersebut. Seperti yang yang dikatakan J.P Chaplin bahwa kepribadian adalah integrasi sifat-sifat tertentu dari individu untuk menyatakan kualitas yang unik dari seorang individu.
Kepribadian seseorang umumnya tercermin dari tingkah laku yang dilakukannya. Berikut ini adalah pendekatan yang dapat dilakuakn guna mengubah tingkah laku manusia,
1. Pendekatan secara mentalistik, pendekatan ini biasanya dilakukan dengan cara ramah atau secara tidak langsung. Pada pelaksanaannya cara ini tidak mudah untuk dilakukan. Contoh yang paling mudah terlihat adalah dari perlakuan orang tua yang pada umumny a menganggap anak sulung atau bungsunya special. Dengan perlakuan tersebut si anak akhirnya merasa lebih dan dapat menimbulkan sikap congkak pada si anak. Sikap si anak tersebut akhirnya dapat berkelanjutan bahkan sampai ke lingkungan kerjanya ketika dewasa sehingga dapat menyulitkan pergaulan anak tersebut.
2. Pendekatan secara empiris, pendekatan yang dilakukan dengan cara merubah stimulusnya (alat perlengkapan, teman sejawat dan lain-lainnya yang merangsang orang tersebut melakukan tingkah perilaku). Sebagai contohnya adalah industri di Indonesia yang pada umumnya menggunakan alat kerja yang tidak ergonomis atau sesuai dengan pekerjanya. Secara jangka panjang , hal ini dapat membuat tingkah laku pengguna alat yang tidak sesuai tersebut mengubah kebiasaannya baik dalam posisi berdiri, duduk, atau berpikir. Otomatis hal ini dapat mempengaruhi kinerja pekerja tersebut di dalam menghasilkan output sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal.
manusia merupakan mahluk yang unik, tak hanya wajah saja yang berbeda, kepribadiaanpun manusiapun sangat unik. Dari beberapa pakar yang mengungkapkan pandangannya mengenai definisi kepribadian, saya tertarik dengan pendapat yang diutarakan Raymond Bernard cattel yang mendefinisikan kepribadian sebagai Apa yang akan dilakukan seseorang dalam situasi tertentu…..yang saya tangkap berarti semua orang berkepribadian ganda… orang akan berkepribadian sesuai dengan situasi yang dihadapinya, jadi selama ini orang yang menyalahkan orang lain berkepribadian ganda padahal dia sendiripun juga berkepribadian ganda menurut teori ini, kalau saya tidak salah menafsirkan.
bicara tingkah laku….tingkah laku juga bisa diartikan sebagai cerminan kepribadian kita, apabila kepribadian kita baik, baiklah juga tingkah laku kita dan saya sangat setuju dengan statement tentang Pengalaman yang pahit dari kegagalan mempunyai kecenderungan untuk dihindari, sedangkan pengalaman menyenangkan cenderung untuk dipertahankan, betul..itu merupakan cara “alamiah” kita belajar untuk hidup, sejak lahir kita akan belajar bertingkah laku menurut apa yang dirasakan oleh kita, apabila yang kita rasakan tak menyenangkan, akan kita tinggalkan, mungkin itu alasan mengapa orang tua jaman dulu membiarkan bati2 kecilnya berkeliaran dengan bebas…ibu ingin mengajarkan kita bertingah laku seperti apa yang kita rasakan.
Pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang unik dan berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap manusia pun memiliki kepribadian dan tingkah laku yang berbeda dan unik. Menurut Raymond Bernard Catell, kepribadian merupakan apa yang akan dilakukan seseorang dalam situasi tertentu. Sedangkan menurut David Abraham Adler, kepribadian merupakan cara individu dalam merespon masalah hidup.
Selain kepribadian, tingkah laku manusia pun yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. tingkah laku manusia ini disebabkan karena adanya stimulus. Stimulus ini merupakan rangsangan dari luar yang dapat dapat membuat menjadi aktif. Tingkah laku manusia lah yang dapat menentukan kegagalan ataupun kesuksesan dari seseorang. Jika seseorang memiliki tingkah laku yang baik, maka kesuksesan pun dapat diraih. Namun, jika tingkah lakunya jauh dari baik, maka kegagalan pun akan didapatkan. Oleh karena itu, tingkah laku manusia merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam menentukan kehidupan manusia.
Adapun pendekatan yang dapat dilakukan dalam merubah tingkah laku manusia, yaitu :
1. Pendekatan mentalistik (pendekatan dengan cara mengubah mentalnya)
Pendekatan ini terbilang sulit untuk melakukannya. Ini disebabkan karena bukan suatu hal yang mudah dalam merubah mental seseorang. Dengan merubah mental seseorang ini, akan membantu individu tersebut jika nanti dia berhadapan dengan orang lain dalam masyarakat atau jika dia bekerja dalam suatu tim kerja.
2. Pendekatan secara empiris (pendekatan dengan cara mengubah stimulusnya)
Pendekatan ini dilakukan dengan merubah stimulusnya, bisa dengan merubah alat kerja maupun mesin yang digunakannya. Contohnya, dalam sebuah perusahaan manufaktur, alat kerja yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi pekerja. Ini disebabkan karena jika tidak sesuai maka akan berakibat kepada waktu produksi dan juga output dari produksi tersebut. Oleh karena itu, dengan pendekatan ini, diharapkan stimulus (berupa alat-alat pendukung dalam sebuah proses) dirubah agar sesuai dengan kondisi seseorang.
Kepribadian
merupakan cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. kepribadian terbentuk dari faktor keturunan, juga lingkungan (budaya, norma keluarga dan pengaruh lainnya), dan juga situasi.
ciri dari kepribadian adalah :
merupakan karakteristik yang bertahan, yang membedakan perilaku seorang individu, seperti sifat malu, agresif, mengalah, malas, ambisius, setia.
Prinsip Hukum Tingkah laku Individu,
1. Tinggkah laku manusia timbul karena adanya stimulus.
2. Tidak ada tingkah laku yang terjadi tanpa stimulus.
3. Stimulus merupakan sebab terjadinya tingkah laku.
4. Makin besar stimulus makin besar kemampuannya untuk menggerakkan tingkah laku.
Stimulus diartikan sebagai rangsangan dari luar. Pada kamus bahasa indonesia stimulus diartikan “Perangsang organisme bagia tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif”
Pendapat lain tentang Tingkah laku manusia:
* Apa yang dapat dicapai dan yang tak dapat dicapai oleh suatu perbuatan membentuk suatu pengalaman.
* Pengalaman yang pahit dari kegagalan mempunyai kecenderungan untuk dihindari, sedangkan pengalaman menyenangkan cenderung untuk dipertahankan.
* Kegagalan dan sukses akan membentuk pola perbuatan yang dijadikan dasar untuk dipertahankan bagi perbuatan berikutnya.
Motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan kata lain menurut Kartini Kartono adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.
Sedangkan menurut Muslimin motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh organisasi.
Untuk menghindarkan kekurangtepatan penggunaan istilah motivasi ini, perlu dipahami pendapat M. Manullang tentang adanya istilah-istilah yang mirip dan sering dikacaukan tentang motivasi tersebut antara lain: motif, motivasi, motivasi kerja, dan insentif.
a. Motif
Kata motif disamakan artinya dengan kata-kata motive, motif, dorongan, alasan dan driving force. Motif adalah daya pendorong atau tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia bertindak. Dikatakan bahwa rumusan yang berbunyi motive are the way of behaviour adalah tepat. Artinya, mengapa timbul tingkah laku seseorang, itulah motive.
b. Motivasi
Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan.
c. Motivasi kerja
Bertolak dari arti kata motivasi tadi, maka yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Atau dengan kata lain pendorong semangat kerja. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja menurut Ravianto adalah: atasan, rekan sekerja, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang dan non uang, jenis pekerjaan dan tantangan. Jadi motivasi individu untuk bekerja sangat dipengaruhi oleh sistem kebutuhannya.
d. Insentif
Istilah insentif (incentive) dapat diganti dengan kata: alat motivasi, sarana motivasi, sarana penimbulan motive atau sarana yang menimbulkan dorongan. Dengan pembatasan-pembatasan penggantian istilah-istilah tersebut diatas, dapatlah dihindari pengkacaubalauan penggunaan istilah yang menyangkut motivasi tersebut.
Motivasi dan Hasil Kerja
Moral Kerja
Yang dimaksud dengan moral adalah suasana batiniah seseorang yang mempengaruhi perilaku individu dan perilaku organisasi. Suasana batiniah itu terwujud di dalam aktivitas individu pada saat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Suasana batin dimaksud berupa perasaan senang atau tidak senang, bergairah atau tidak bergairah dan bersemangat atu tidak bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan.
Proses manajemen dan leadership yang efektif memerlukan moral kerja yang positif dalam arti suasana batin yang menyenangkan hingga memiliki semangat yang tinggi dalam melakukan pekerjaan. Moral kerja yang tinggi merupakan dorongan bagi terciptanya usaha berpartisipasi secara maksimal dalam kegiatan organisasi/kelompok, guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya moral kerja seseorang. Dalam kegiatan manajemen dan leadership pendidikan, moral kerja yang tinggi dari setiap SDM yang terlibat di dalamnya, merupakan faktor yang menentukan bagi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Berbagai faktor itu di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Sebagian orang memandang bahwa minat/perhatian terhadap pekerjaan berpengaruh terhadap moral kerja. Bilamana seseorang merasa bahwa minat/perhatiannya seusai dengan jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan maka akan memiliki moral kerja yang tinggi.
2. Sebagian lainnya menempatkan faktor upah atau gaji penting dalam meningkatkan moral kerja. Upah atau gaji yang tinggi dipandang sebagai faktor yang dapat mempertinggi moral kerja.
3. Disamping itu ada kelompok orang yang memandang faktor status sosial dari pekerjaan dapat mempengaruhi moral kerja. Pekerjaan yang dapat memberikan status sosial atau posisi yang tinggi/baik (misalnya, sebagai kepala, staf pimpinan, kepala bagian dan sebagainya) menurut kelompok ini akan mempertinggi moral kerja.
4. Sekolompok lain memandang tujuan yang mulia atau pekerjaan yang mengandung pengabdian merupakan faktor yang dapat mempertinggi moral kerja. Tujuan dan sifat pengabdian diri dalam suatu pekerjaan mengakibatkan seseorang bersedia mendertia, berkorban harta benda dan bahkan jiwanya demi terwujudnya pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Kelompok terakhir memandang faktor suasana kerja dan hubungan kemanusiaan yang baik, sehingga setiap orang merasa diterima dan dihargai dalam kelompoknya dapat mempertinggi moral kerja.
Motivasi Dalam Pekerjaan
Seseorang bekerja karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, di mana kebutuhan dasar manusia itu banyak ragamnya. Menurut Maslow kebutuhan dasar manusia ini ada beberapa tingkatan :
1. Kebutuhan fisik (physical needs)
Yang meliputi kebutuhan sehari-hari untuk makan, minum, berpakaian, bertempat tinggal, berrumahtangga dan sejenisnya.
2. Kebutuhan keamanan (safety needs)
Yang meliputi kebutuhan untuk memperoleh keselamatan, keamanan, jaminan atau perlindungan dari ancaman-ancaman yang membahayakan kelangsungan hidupnya.
3. Kebutuhan Sosial (social needs)
Kebutuhan untuk disukai dan menyukai, dicintai dan mencintai, bergaul, bermasyarakat dan sejenisnya.
4. Kebutuhan pengakuan (the needs of esteems)
Kebutuhan untuk memperoleh kehormatan, penghormatan, pujian, penghargaan dan pengakuan.
5. Kebutuhan mengaktualisasikan diri .(the needs for self actualization)
Kebutuhan untuk memperoleh kebanggaan, keagungan, kekaguman dan kemasyhuran sebagai orang yang memiliki kemampuan dan keberhasilan dalam mewujudkan potensi bakatnya dengan hasil prestasi yang luar biasa.
Selain itu dalam melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan yang bersifat sadar, seseorang selalu didorong oleh maksud atau motif tertentu, baik yang obyektif maupun subyektif. Motif atau dorongan dalam melakukan sesuatu pekerjaan itu sangat besar pengaruhnya terhadap moral kerja dan hasil kerja. Seseorang bersedia melakukan sesuatu pekerjaan bilamana motif yang mendorongnya cukup kuat yang pada dasarnya tidak mendapat saingan atau tantangan dari motif lain yang berlawanan. Demikian pula sebaliknya orang lain yang tidak didorong oleh motif yang kuat akan meninggalkan atau sekurang-kurangnya tidak bergairah dalam melakukan sesuatu pekerjaan.
Semua faktor yang telah disebutkan di atas pada dasarnya merupakan bentuk-bentuk motif yang mendorong seseorang melakukan pekerjaannya secara bersunguh-sungguh. Dalam hubungan itu dapat dibedakan dua jenis motif yakni :
1. Motif intrinsik, yakni dorongan yang terdapat dalam pekerjaan yang dilakukan. Misalnya : bekerja karena pekerjaan itu sesuai dengan bakat dan minat, dapat diselesaikan dengan baik karena memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menyelesaikannya dan lain-lain.
2. Motif ekstrinsik, yakni dorongan yang berasal dari luar pekerjaan yang sedang dilakukan. Misalnya : bekerja karena upah atau gaji yang tinggi mempertahankan kedudukan yang baik, merasa mulia karena pengabdian dan sebagainya.
Motif intrinsik dan ekstrinsik bersumber dari tiga teori motif, sebagai berikut :
1. Teori psikoanalisa, yang menekankan pada pengalaman masa kanak-kanak sebagai motif yang dapat dan selalu mendorong seseorang melakukan sesuatu perbuatan. Orang merasa senang dan puas melakukan sesuatu pekerjaan karena pengaruh masa lampaunya. Misalnya orang yang puas bekerja pada bidang yang tidak menuntut tanggung jawab, mungkin karena pengaruh masa lampaunya di mana yang bersangkutan tidak pernah mendapat kesempatan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya karena selalu terlindung oleh orang tua, terlalu tergantung pada orang tua dan sebagainya.
2. Teori Gestalt dari Lewin, yang menekankan pada pengaruh kekuatan situasi yang sedang dihadapi oleh seseorang . Perasaan senang dan puas mengerjakan sesuatu disebabkan oleh karena dengan pekerjaan itu yang bersangkutan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Misalnya : seseorang terdorong untuk bekerja dengan baik karena memperoleh upah yang tinggi sehingga dapat mencukupi kebutuhan material hidupnya, yang tidak akan diperolehnya jika bekerja di bidang lain. Situasi masyarakat pada saat itu menempatkan penilaian jumlah materi yang dimiliki seseorang sebagai ukuran kemuliaan atau kebahagian hidup.
3. Teori Allport yang menekankan pentingnya kekuasaan “AKU” dalam melakukan suatu pekerjaan. Seseorang merasa terdorong melakukan pekerjaan karena orang tersebut mendapat kesempatan mengatur, menguasai, memerintah orang lain. Orang yang bersangkutan merasakan AKU berperanan dan berkuasa sehingga dapat mewujudkan kehendak dan cita-cita di dalam suatu pekerjaan dengan menggunakan orang lain sebagai alat.
Sepanjang motif pendorong menurut ketiga teori itu bersifat wajar dan obyektif sehingga seseorang melakukan suatu pekerjaan, maka motif itu dapat menjadi motif intrinsik atau ekstrinsik yang positif bagi pengembangan moral kerja. Sebaliknya bilamana bersifat berlebih-lebihan sehingga tidak wajar, baik bersifat ekstrim kurang maupun lebih, maka akan menajdi motif intrinsik yang nengatip dan subyektif bagi pembinaan moral kerja. Dalam hal yang terakhir, sepanjang tidak merugikan usaha-usaha kerjasama/organisasi terutama dalam peningkatan produktifitas kerja masih mungkin untuk dimanfaatkan.
Mungkin seperti itu pa…
Keterkaitan Kepribadian dan Tingkah Laku dengan hawthorne effect
Kepribadian
kepribadian disini mungkin bisa dilihat dari cara orang memandang orang lain. Pasti setiap orang mempunyai pandangan sendiri tentang orang yang ia jumpai baik di mol, di kampus maupun dilingkungan sekitar. Bagaimana orang menyikapinya, mungkin saja orang menilai kepribadian seseorang sebut saja namanya AX, orang yang satu bisa saja menyebut kepribadian AX ini sebagai seseorang yang sombong atau seperti apa saja (mungkin saja orang yang menyebut AX menyebut dia sombong karena AX belum terlalu dekat sehingga rada kagok untuk bicaranya) dan yang orang satunya menilai AX itu baik karena ia melihat dia enak ketika diajak bicara dan karena ia sudah mengenal AX ini yang menyebabkan sikap AX tidak canggung saat diajak bicara, mungkin kepribadian disini adalah cerminan hatinya seperti apa.
Tingkah Laku
Dalam tingkah laku disini bisa kelihatan secara fisik bagaimanakah seseorang bertingkah laku misalnya ia bertingkah laku sepeti anak kecil itu akan kelihatan
seperti anak kecilnya. selain itu tingkah laku seseorang itu berbeda-beda ada yang baik atau ada yang tidak baik, yang baik disini akan menyebabkan ia akan mudah bergaul dengan orang lain sedangkan yang buruk seseorang tidak akan mempunyai banyak teman. Misalnya orang yang menceminkan tingkah laku yang buruk, yaitu seseorang yang tidak tahu sopan santun dan ia tidak pernah menhormati orang lain maunya menang sendiri dalam kehidupannya pun ia tidak akan mempunyai banyak teman. Ataupun
sebaliknya orang yang berperilaku baik akan mempunyai banyak teman.
kesimpulan dari saya disini dalam berprilaku mungkin bisa kelihatan kepribadiannya seperti apa, dan kalau kita berperilaku baik kepada orang lain, orang lain akan menjawabnya dengan perilaku yang baik juga kepada kita ataupun sebaliknya orang yang berperilaku buruk kepada orang lai orang lain pun akan berperilaku buruk kepada kita.
Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki kepribadian dan tingkah lakunya masing – masing.
Sifat dan tingkah laku seseorang sangat mempengaruhi bagaimana hubungan sosialnya dengan manusia lain. Baik dalam kondisi sosial biasa maupun dalam pekerjaannya.
Ada beberapa teori mengenai kepribadian menurut beberapa pakar diantaranya:
1. G. W. Allport, menurut beliau, kondisi kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh kodisi psikologis dan fisik yang dinamis dan inovatif dari orang yang bersangkutan
2. R. B. Cattell, menurut beliau, kepribadian adalah bagaimana seseorang menanggapi setiap keadaan di lingkungan sekitarnya.
3. D. A. Addler, menurut beliau, kepribadian seseorang adalah saat ia merespon setiap masalah dalam hidupnya.
Tingkah laku manusia sendiri pada dasarnya dipengaruhi oleh sebuah stimulus. Makin banyak stimulus yang diberikan, makin berbeda tingkah lakunya dengan yang mendapat stimulus hanya sedikit.
Ada beberapa pendekatan untuk tingkah laku manusia, yaitu:
1. Pendekatan mentalistik
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang tergolong sulit, karena pendekatan ini bertujuan untuk mengubah tingkah laku seseorang melalui dirinya sendiri, atau dengan kata lain merubah tingkah lakunya tapi stimulusnya adalah dirinya sendiri. Harus dialah yang merubah tingkah laku, tanpa ada faktor ekstern lain.
2. Pendekatan secara empiris
Pendekatan ini dilakukan dengan mengubah kondisi dan situasi lingkungan orang yang bersangkutan. Peubahan kondisi lingkungan diharapkan membuat orang tersebut perilakunya sedikit demi sedikit dapat berubah. Perubahan yang dapat dilakukan diantaranya merubah sistem kerja atau kondisi lingkungan kerja serta kemudahan mengakses peralatan.
Pendekatan – pendekatan yang telah dijabarkan di atas memiliki satu tujuan utama agar produktifitas serta output yang dimiliki oleh orang tersebut menjadi lebih baik dan optimal.
Sekian pendapat dan resume yang dapat saya berikan, kurang lebihnya, saya mohon maaf..
kepribadian bisa dikatakan suatu hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya. dalam artikel diatas dikatakan bahwa tingkah laku terjadi karena stimulus/faktor rangsangan organisme tubuh sehingga menjadi aktif, selain itu faktor lingkungan pun sebenarnya mempengaruhi juga, dengan bukti banyaknya masyarakat yang tinggal dalam suatu daerah tertentu terlihat sangat dominan dalam kebiasaan hidup yang dianggap itu merupakan suatu nilai yang diwariskan oleh nenek moyang yang mungkin bisa dikatakan faktor tersebut akan mempengaruhi kepribadian seseorang.
kepribadian itu sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan kebiasaan seseorang dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Apabila kepribadian yang dimilikikya kurang baik maka dampak terhadap lingkungan sekitar pun akan berdampak negatif dan begitu juga sebaliknya.
Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri sebagai suatu proses respons individu baik bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan – kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan( norma) lingkungan.
Kepribadian dalam diri manusia memang sangat unik dimana kualitas prilaku terlihat khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisis fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan saling berpengaruh, sehingga menentukan kuilitas tindakan atau prilaku indivudu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Setiap insan manusia mempunyai kepribadian dan tingkah laku yang berbeda-beda. Kepribadian ini akan berpengaruh pada cara dia beradaptasi pada keadaan yang sedang dia hadapi. Hal ini bisa terlihat misalnya pada saat orang ini menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.
Para pakar yang memberi teori tentang kepibadian, adalah :
1.Gordon Willard Allport (1897-1967) – kondisi lingkungan-lingkungan sekitar mempengaruhi tingkah laku individu tersebut.
2.Raymond Bernard Cattell (1905-1998) – kepribadian menentukan cara dia bertindak dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.
3.David Abraham Adler – kepribadian menentukan cara dia bertindak dalam menghadapi masalah-masalahnya.
Dalam lingkungan pekerjaan, kita dituntut untuk cepat beradaptasi atau meyesuaikan diri dengan lingkungan kerja kita, termasuk dengan tingkah laku kita. Mengapa? Karena orang akan menilai kepribadian kita dengan melihat tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengubah tingkah laku manusia :
1.Pendekatan secara mentalistik, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara mengubah mentalnya, misalnya orang tua yang selalu menbandingkan kakaknya yang pintar dan adiknya yang sedikit kurang pintar. Cara ini tidak baik, karena akan berdampak pada mental anaknya yang kurang pintar, bisa menjadi depresi dan menjadi kendala bagi anaknya untuk bereksplorasi dalam lingkungan kerjanya.
2.Pendekatan secara empiris (kondisional), yaitu pendekatang yang dilakukan dengan cara merubah stimulusnya (mesin, teman kerja, dll). Misalnya pada jaman sekarang ini, semuanya sudah terkomputerisasi, sehingga sumber daya manusia yang handal jarang digunakan jarena semuanya telah dikerjakan oleh mesin (komputer).
Dear Mstr.Boy Macklin.
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih atas materi yang telah diberikan.
Kepribadian menurut saya merupakan hal yang sangat rumit untuk dipelajari karena kepribadian seseorang sangat mudah berubah seperti yang dikatakan Raymond Bernard Cattell yaitu kepribadian seseorang cenderung berubah berdasarkan apa yang dialaminya berdasarkan waktu tertentu.
Namun terkadang dalam beberapa hal seseorang dapat diketahui kepribadiannya berdasarkan kondisi fisik wajah ataupun raut mukanya. Hal ini terkadang sering digunakan orang untuk menilai baik atau buruknya seseorang yang baru ditemuinya. Menurut saya itu bagaimana seseorang dapat merepresentasikan dirinya kepada orang lain sehingga orang lain tidak cepat berburuk sangka terhadap orang yang baru dikenalnya. Apalagi masyarakat Indonesia yang konon katanya masyarakat yang ramah dan baik budi pekertinya.
Menurut saya orang yang hebat adalah orang yang mempunyai kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain agar dapat mengikuti apa yang dikehendakinya. Sebagai contoh seorang Adolf Hitler adalah seorang yang mempunyai kepribadian yang sangat kuat untuk menyatakan pendapatnya sehingga orang-orang disekitarnya dapat ikut dengan apa yang dikatakannya. Hal ini juga tak luput dari ilmu pengetahuan yang dimilikinya sehingga mempunyai ide-ide yang bagus serta kemampuan bersosialisasi yang baik.
Terimakasih.
1 kepribadian
menurut saya kepribadian merupakan hal yang sangat sulit dipelajari apalagi ketika kita menilai kepribadian seseorang sering berubah kadang ada kala baik kadang juga jadi orang yang sombong. tapi manusia cenderung salah persepsi dalam menilai kepribadian seseorang ada yang bilang menilai seseorang dari raut muka dan juga tingkah laku ya. belum tentu raut muka yang serem atau ga banyak ngomong itu orang yang acuh kepada orang lain atau jahat. tapi sebalik nya kepribadian yang biasa-biasa saja bisa jadi musuh dalam selimut. jadi dapat di simpulkan kita harus teliti dalam menyikapi kepribadian seseorang baik itu fisik nya maupun tingkah lakunya.
2. Prinsip-prinsip Hukum Tingkah laku Manusia
disini tingkah laku seseorang dapat kita nilai bagaimana sikap dan sifat, dilihat dari garis besarnya manusia memiliki tingkah laku yang berbeda-beda contohnya belum tentu seseorang yang sudah dewasa memiliki sifat atau sikap dewasa melainkan seorang yang sudah dewasa bisa saja tingkah laku kekanak kanakan nya masih melekat.
sikap bisa di ubah tetapi sifat seseorang tidak bisa di ubah begitu saja.
3. Motivasi.
motivasi hal yang terpenting dalam kehidupan seseorang. motivasi bisa menaikan image kita baik dalam motivasi belajar maupun dalam lingkungan disekitarnya, misalkan motivasi dalam hal proses belajar bisa saja motivasi datang dari lingkungan kampus, teman, maupun keluarga itu menjadi tolak ukur dalam dalam memacu untuk lebih baik giat belajar dsb. dalam hal itu motivasi dapat menjadi kan seseorang untuk mencapai apa yang terbaik buat diri nya dengan mencapai tujuan yang lebih baik.
3. motivasi hasil kerja
dalam melakukan suatu pekerjaan kalau tidak ada motivasi 0 besar karena motivasi sangat bagus dalam kenerja seseorang dalam proses bekerja yang maksimal. misalkan bila di motivasi sama atasan untuk melakukan pekerjaan maka pekerja tersebut dalam melakukan kegiatan bekerja nya akan bermotivasi dan hasil kerja nya akan terus dan terus meningkat.
[...] kepribadian, tingkah laku, karakteristik sifat, motivasi, tanggung jawab, dan berwawasan luas (Materi 3). Seorang pemimpin harus mempunyai setiap hal yang telah disebutkan di atas, karena dengan [...]
hmmmmmmm…….. ada yang bisa menjelaskan kepada gue mengenai apa itu tingkah laku universal ??????????????
Terima kasih untuk tipsnya, saya mau coba semoga juga.
Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!




Saya